Cuaca Ekstrem 2026, El Nino Intai Kesehatan Paru

  • 14 Apr 2026 08:34 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Cuaca tak lagi sekadar soal panas atau hujan. Di tahun 2026, dunia kembali bersiap menghadapi kemungkinan kemunculan fenomena El Niño, sebuah siklus iklim yang kerap memicu cuaca ekstrem dari kekeringan panjang hingga lonjakan suhu yang tak biasa. Namun di balik perubahan cuaca itu, ada ancaman yang lebih senyap yaitu gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.

Badan Meteorologi Dunia mencatat, peluang kemunculan El Niño pada pertengahan 2026 mulai meningkat, meski masih dalam fase ketidakpastian. Probabilitasnya bahkan bisa mencapai sekitar 30–40 persen dalam periode Mei hingga Juli 2026. Ini menjadi sinyal awal bahwa kondisi cuaca ekstrem berpotensi kembali terjadi di berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara.

Udara Kering, Paru-Paru Terancam

Salah satu dampak paling terasa dari El Niño adalah meningkatnya suhu udara dan kondisi kering berkepanjangan. Dalam situasi ini, kualitas udara cenderung memburuk—baik akibat polusi maupun kebakaran hutan yang sering menyertai musim kemarau ekstrem.

Udara kering ternyata bukan sekadar tidak nyaman. Praktisi kesehatan menyebut, kondisi ini dapat mengeringkan lapisan mukosa pada saluran pernapasan, yang berfungsi sebagai pelindung alami tubuh. Ketika lapisan ini terganggu, risiko penyakit seperti batuk, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, hingga asma meningkat signifikan.

Fenomena ini bukan sekadar teori. Studi ilmiah menunjukkan bahwa pada tahun-tahun El Niño, angka penyakit infeksi saluran pernapasan dapat meningkat sekitar 5,8 persen dibandingkan kondisi normal.

Perubahan Iklim dan Lonjakan Risiko

El Niño tidak berdiri sendiri. Ia memperkuat dampak perubahan iklim global yang sudah lebih dulu terjadi. Gelombang panas, peningkatan partikel polusi seperti PM2.5, hingga kebakaran hutan memperparah kondisi lingkungan yang tidak ramah bagi paru-paru manusia.

Sebuah tinjauan dalam Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (UIMA) (2026) mengungkap bahwa faktor lingkungan seperti panas ekstrem dan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan hingga 30 persen. Bahkan di Indonesia, kasus ISPA dilaporkan meningkat sekitar 15 persen dan berkaitan erat dengan perubahan iklim.

Tak hanya itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa El Niño dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari penyakit menular, malnutrisi, stres panas, hingga penyakit pernapasan.

Efek Domino Cuaca Ekstrem

Dampak El Niño bersifat berantai. Kekeringan panjang bisa memicu kebakaran hutan, yang menghasilkan kabut asap berbahaya. Di sisi lain, wilayah tertentu justru mengalami hujan ekstrem dan banjir yang meningkatkan risiko penyakit menular.

Dalam skala global, fenomena ini telah terbukti memperluas penyebaran penyakit dan meningkatkan tekanan pada sistem kesehatan. Bahkan, laporan riset menyebut dampak kesehatan El Niño bisa bertahan lebih lama daripada fenomena cuacanya sendiri.

Siapa yang Paling Rentan?

Kelompok paling rentan terhadap dampak ini adalah anak-anak, lansia, serta individu dengan penyakit kronis seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Selain itu, masyarakat di negara tropis seperti Indonesia menghadapi risiko lebih besar karena kombinasi suhu tinggi, kelembapan, dan polusi udara.

Wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, juga disebut sebagai salah satu kawasan yang paling terdampak oleh perubahan pola cuaca akibat El Niño, baik dari sisi kesehatan maupun lingkungan.

Antisipasi Jadi Kunci

Menghadapi potensi El Niño 2026, para ahli menekankan pentingnya langkah preventif. Mulai dari penggunaan masker untuk melindungi saluran napas, menjaga hidrasi tubuh, hingga memantau kualitas udara harian. Lebih luas lagi, pendekatan berbasis teknologi seperti sistem prediksi dini dan edukasi masyarakat dinilai mampu menekan dampak kesehatan hingga 20–25 persen.

Pada akhirnya, El Niño bukan sekadar fenomena alam ia adalah pengingat bahwa perubahan iklim kini menyentuh aspek paling mendasar dalam hidup manusia ialah kemampuan untuk bernapas dengan lega. Tahun 2026 mungkin belum sepenuhnya dipastikan akan diwarnai El Niño kuat, tetapi tanda-tandanya sudah cukup jelas. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah dampaknya akan terasa, melainkan seberapa siap kita menghadapinya.




google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....