Tren "Salt Stomping" Diklaim Bantu Tidur, Benarkah Efektif?
- 08 Jul 2026 14:08 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Beragam cara dilakukan masyarakat untuk mendapatkan tidur yang lebih nyenyak, mulai dari mengonsumsi suplemen hingga membatasi penggunaan gawai sebelum tidur. Belakangan, media sosial diramaikan dengan tren baru bernama salt stomping, yang diklaim mampu membantu seseorang lebih mudah terlelap.
Salt stomping dilakukan dengan cara menuangkan garam Epsom ke dalam wadah atau nampan, kemudian berdiri atau menginjaknya secara perlahan selama sekitar 10 menit. Sejumlah pengguna media sosial mengklaim kebiasaan ini dapat menurunkan kadar hormon stres kortisol, meningkatkan serotonin, dan mempersiapkan tubuh untuk tidur yang lebih berkualitas.
Menurut Dr. Jacqueline Geer, asisten profesor di bidang Pulmonologi, Perawatan Kritis, dan Kedokteran Tidur di Yale School of Medicine, manfaat yang dirasakan sebagian orang kemungkinan bukan berasal dari garam itu sendiri, melainkan dari aktivitas relaksasi yang dilakukan sebelum tidur, dilansir dari vogue (30/6/2026).
Ia menjelaskan, tren salt stomping berkaitan dengan konsep grounding atau keterhubungan dengan bumi. Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa praktik grounding dapat membantu mengurangi peradangan dan meredakan kecemasan. Selain itu, berbagai studi juga menemukan bahwa latihan mindfulness atau kesadaran penuh sebelum tidur dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan sering digunakan dalam terapi perilaku kognitif untuk mengatasi insomnia.
Geer menjelaskan, memusatkan perhatian pada sensasi butiran garam di telapak kaki dapat mengalihkan pikiran dari rasa cemas atau kebiasaan berpikir berlebihan sebelum tidur. Aktivitas tersebut secara tidak langsung membantu menenangkan sistem saraf.
Ia menambahkan, kegiatan yang menenangkan dan tidak memberikan rangsangan berlebihan menjelang waktu tidur memang diketahui dapat membantu seseorang lebih mudah terlelap. Karena itu, orang yang merasa memperoleh manfaat dari salt stomping kemungkinan sebenarnya sedang merasakan efek dari relaksasi dan pengalaman sensorik selama melakukan ritual tersebut.
Meski demikian, Geer menegaskan bahwa belum terdapat penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa menginjak garam Epsom dapat menurunkan kortisol maupun meningkatkan serotonin secara langsung. Efek positif yang dirasakan lebih banyak diperkirakan berasal dari faktor psikologis.
Pendapat serupa disampaikan Dr. Chris Winter, ahli saraf sekaligus spesialis tidur dari Pluto. Ia mengingatkan bahwa tren tersebut juga memiliki sejumlah risiko, terutama bagi kesehatan kaki.
Menurut Winter, butiran garam dapat menyebabkan iritasi kulit, memperparah kulit yang pecah-pecah di telapak kaki, hingga menimbulkan luka kecil yang berpotensi menjadi pintu masuk bakteri penyebab infeksi. Karena itu, masyarakat disarankan berhati-hati apabila ingin mencoba metode tersebut.
Sebagai alternatif yang lebih aman, Winter menyarankan penggunaan garam mandi (bath salt) dalam air hangat sebagai bagian dari rutinitas sebelum tidur. Namun, ia menekankan bahwa manfaat relaksasi bukan berasal dari kandungan garamnya.
"Yang paling penting adalah melambatkan aktivitas, melakukan ritual yang menenangkan, dan memberi sinyal kepada tubuh bahwa sudah waktunya beristirahat," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berendam dalam air hangat memiliki dasar ilmiah yang lebih kuat. Suhu air hangat akan sedikit meningkatkan suhu tubuh, kemudian ketika tubuh kembali mendingin setelah keluar dari bak mandi, penurunan suhu tersebut dapat memicu mekanisme alami tubuh untuk mengantuk sehingga seseorang lebih cepat tertidur dan kualitas tidurnya meningkat.
Sejumlah penelitian juga mendukung pentingnya rutinitas relaksasi sebelum tidur. American Academy of Sleep Medicine (AASM) merekomendasikan penerapan sleep hygiene, seperti mengurangi paparan layar gawai, menjaga jadwal tidur yang konsisten, serta melakukan aktivitas menenangkan menjelang waktu tidur untuk membantu meningkatkan kualitas istirahat.
Dengan demikian, meski salt stomping sedang menjadi tren di media sosial, beberapa Pakar Kesehatan mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menganggapnya sebagai metode yang terbukti efektif secara ilmiah. Fokus pada rutinitas malam yang menenangkan, menjaga pola tidur yang konsisten, serta menerapkan kebiasaan hidup sehat tetap menjadi cara yang paling direkomendasikan untuk memperoleh tidur yang berkualitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....