Pacu Kude, Cerita Para Kuda Pacu Melintas Zaman ( Bagian 1 )

  • 27 Okt 2023 15:35 WIB
  •  Takengon

KBRN Takengon : Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah, memiliki tradisi unik menyambut hari kemerdekaan, yakni lomba pacuan kuda tradisional dengan joki tanpa menggunakan pelana. Tradisi yang oleh masyarakat setempat disebut Pacu Kude, menjadi atraksi yang mampu menyedot puluhan ribu penonton. Saat ini pergelaran pacu kude dijalankan rutin sebagai agenda pariwisata di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Dalam beberapa catatan sejarah serta dari cerita mulut ke mulut, Pacu Kude di Gayo dimulai dari Bintang, kemukiman paling timur danau Lut Tawar Aceh Tengah. Pacu Kude pertama-tama digelar sekitar tahun 1850 dengan arena pacuan melintasi Wekef hingga Menye berjarak lebih kurang 1,5 kilometer, rutenya memanjang, bukan memutar seperti saat ini. Saat itu, Pacu Kude diselenggarakan saat luah berume atau lues belang (setelah panen padi).

Saat itu tidak ada disediakan hadiah, para pemenang hanya memperoleh “Gah” atau nama besar (marwah-red). Biasanya, Pacu Kude dilanjutkan dengan perayaan atau syukuran luah munoling (paska panen padi) yang biayanya diperoleh dengan berpegenapen (saling menyumbang biaya dan perlengkapan lainnya).

Pada tahun 1912 penjajah Belanda menggelar Pacu Kude di Takengon dengan lintasan lurus sepanjang jalan depan rumah sakit lama (kampus IAIN Gajah Putih sekarang) hingga Tan Saril. Namun karena membahayakan warga, Pacu Kude kemudian dipindahkan ke lapangan Belang Kolak yang kemudian bernama Gelengang Musara Alun, lintasan Pacu Kude berubah menjadi oval, diberi pagar pembatas berupa tersik (tonggak kayu) serta radang (sejenis rotan). Even ini di gelar Belanda untuk memeriahkan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina pada setiap tanggal 31 Agustus.

Dari sumber lain, dikatakan jika saat itu mulai disediakan hadiah berupa piagam dan jam beker (weker). Karena hadiahnya beker sebutan kuda pemenang hingga saat ini masih disebut dengan kuda Beker alias kuda juara. Uniknya, jika kuda betina yang memperoleh juara maka dinamakan sebagai Kude Dompet, tidak jelas kapan istilah ini muncul.

Pasca kemerdekaan RI, mulai tahun 1950 Pacu Kude juga sempat digelar oleh masyarakat, saat itu kuda-kuda dari Bintang, Kenawat, Pegasing dan Kebayakan yang paling aktif ikut serta. Bahkan saking antusiasnya warga dan peserta Pacu Kude dari Kenawat, di Gelengang Musara Alun sempat ada nama tempat yang agak tinggi dibanding bagian lapangan lainnya dinamakan “Buntul Kenawat”, di lokasi ini berkumpul kuda-kuda, joki dan pendukung dari Kenawat.

Seiring dengan terbentuknya kabupaten Aceh Tengah tahun 1956, penyalenggaraan even Pacu Kude diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Penyelengaraan Pacu Kude terus berlanjut yang digelar dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. ( sumber : Indonesiana Ditjen Kebudayaan RI )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....