Mengukir Kreativitas Anak Berkebutuhan Khusus di Panggung FLS3N-PDBK Wilayah V

  • 20 Apr 2026 20:26 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Suasana hangat penuh semangat terasa di ruang sederhana SLB Restu Permata Bunda Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Di sinilah puluhan anak berkebutuhan khusus dari Aceh Tengah dan Bener Meriah berkumpul, bukan sekadar untuk berkompetisi, tetapi untuk menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi kreativitas dan prestasi.

Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (FLS3N-PDBK) tingkat Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Pendidikan Khusus Layanan Khusus (MKKS PKLK) Wilayah V tahun 2026 menjadi ajang yang dinanti. Dengan 16 cabang lomba mulai dari desain grafis, menggambar, mewarnai, pantomim, menari hingga bercerita, anak-anak dari SDLB, SMPLB, dan SMALB Aceh Tengah dan Bener Meriah tampil percaya diri di depan juri dan penonton.

Ketua MKKS PKLK Wilayah V, Eko Sutrimo, S.Pd., Gr, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seleksi menuju tingkat provinsi, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan motivasi dan menyalurkan bakat bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).

“Kami ingin anak-anak SLB punya ruang untuk berkreasi, sehingga ketika kembali ke keluarga dan masyarakat, mereka membawa keterampilan yang bermanfaat,” ujarnya penuh harap.

Dukungan juga datang dari Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Bener Meriah, Subandi, S.Si., M.Si, yang menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan inklusif.

“Masih ada sekolah SLB yang belum bisa bergabung karena keterbatasan. Pemerintah perlu hadir agar anak-anak ini mendapat kesempatan yang sama,” katanya.

Diakui Eko Sutrimo, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Pendidikan Khusus Layanan Khusus (MKKS PKLK) Wilayah V sudah memasuki tahun ke-6 dalam menyemarakan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (FLS3N-PDBK) tingkat Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Pendidikan Khusus Layanan Khusus (MKKS PKLK).

“Dan setiap kali digelar selalu meninggalkan kesan mendalam. Bagi para peserta, panggung lomba bukan hanya arena kompetisi, melainkan ruang ekspresi diri. Bagi orang tua dan guru, ini adalah bukti bahwa anak-anak berkebutuhan khusus mampu bersinar jika diberi kesempatan,” ungkap Eko.

Dilanjutkan Kepala MKKS Eko, kegiatan tersebut lebih dari sekadar lomba, Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (FLS3N-PDBK) adalah perayaan keberanian, kreativitas, dan harapan.

Di balik senyum dan tepuk tangan, tersimpan pesan kuat pendidikan inklusif bukan pilihan, melainkan kebutuhan, agar setiap anak dapat tumbuh dan berkontribusi sesuai potensinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....