Menanti Air Sawah Celala: Diantara Lumpur, Harapan, dan Musim Tanam

  • 08 Apr 2026 21:39 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Di pagi yang berkabut di Celala, Aceh Tengah, suara cangkul menembus sunyi. Sultan, warga setempat dan beberapa warga lain menunduk di tepi tali air, menggali lumpur yang menutup saluran irigasi. Sejak bencana alam melanda pada November 2025, air menjadi barang langka di sawah mereka. Hujan yang turun belakangan justru membawa tanah kembali ke saluran, memaksa mereka bekerja ulang dari awal.

“Kalau kami nggak bersawah, apa jadinya? Buah kopi cuma untuk dapur,” ujar Sultan sambil menghela napas.

Di Celala, sawah bukan sekadar ladang padi. ia adalah denyut kehidupan. Di sela kebun kopi, sawah menjadi penyeimbang ekonomi keluarga, tempat harapan tumbuh bersama benih.

Namun, harapan itu kini menunggu aliran air. Irigasi yang rusak belum sepenuhnya diperbaiki. Kepala Dinas PUPR Aceh Tengah, Pijas Visara, mengakui bahwa penanganan masih berjalan bertahap.

“Memang belum semua irigasi persawahan diperbaiki. Tahun ini kita lakukan perbaikan secara bertahap,” ujarnya.

Di tengah dunia yang penuh konflik dan harga kebutuhan yang terus naik, warga Celala khawatir akan merasakan imbasnya hingga ke lumpur sawah. Tapi mereka tetap bertahan dengan cangkul, dengan doa, dan dengan keyakinan bahwa air akan kembali mengalir berkat dukungan Pemerintah.

Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....