Meugang Pasca Bencana: Tradisi Ramadan yang Tetap Hidup di Aceh Tengah
- 17 Feb 2026 10:53 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Mendung dan gerimis menyelimuti langit Kota Takengon pada hari pertama meugang menyambut Ramadan, tepatnya Selasa 17 Februari 2026.
Suasana pasar masih relatif sepi, pembeli belum ramai karena ini baru meugang pertama dan masyarakat masih beradaptasi pasca bencana yang melanda beberapa waktu lalu. Meski demikian, tradisi turun-temurun ini tetap dijalankan dengan penuh makna.
Sejak pagi, pedagang daging sapi dan kerbau sudah menata dagangannya, baik di perempatan jalan, persimpangan jalan dan Pasar Paya Ilang. Harga daging mengalami kenaikan dari Rp160 ribu menjadi Rp180 ribu per kilogram.
Kenaikan ini berlaku untuk daging sapi maupun kerbau. Namun bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar membeli daging, melainkan simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi menyambut bulan suci.
Seorang pedagang, Salwa, mengatakan walau harga daging mengalami kenaikan, hal itu sudah dimaklumi oleh konsumen. Mereka tetap mencari daging, walau harga mengalami kenaikan dari harga normal.
“Harga memang naik, tapi tetap ada yang beli. Meugang ini udah jadi tradisi, jadi orang tetap nyari daging walau mahal,” ujarnya sembari menimbang daging.
Sementara itu, seorang ibu rumah tangga, Nurhayati, menuturkan walau harga naik dibandingkan dengan harga normal, namun daging wajib dibeli untuk menyambut ramadan dengan lebih bergembira.
“Walau harga naik dan suasana masih sepi, tetap harus beli. Meugang itu wajib, biar bisa makan daging bersama keluarga, menyambut puasa semangat. Rasanya beda kalau menyambut Ramadan tanpa meugang,” katanya.
Di dapur-dapur rumah, masak putih khas Aceh dan gulai daging mulai dimasak. Hidangan ini bukan hanya untuk keluarga inti, tetapi juga dibagikan kepada tetangga dan kerabat atau sanak famili. Nilai sosial meugang terasa kuat, mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kepedulian di tengah masyarakat.
Meski harga daging naik, suasana pasar belum seramai biasanya, dan masyarakat masih dalam pemulihan pasca bencana, semangat warga Takengon menyambut Ramadan tetap hangat.
Tradisi meugang menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kebersamaan, berbagi, dan menjaga warisan budaya yang telah hidup.
Sn