Kolaborasi Relawan Buka Akses Reje Payung
- 16 Jan 2026 19:16 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Suara raungan kendaraan penggerak empat roda menggema di kawasan pegunungan Gayo, menandai berakhirnya keheningan yang selama ini menyelimuti wilayah tersebut. Di sekitar aliran Sungai Kali Ili, kecamatan Line Aceh Tengah, perjuangan panjang para relawan Posko Kemanusiaan Kolaborasi Relawan Gayo akhirnya menemukan titik terang. Selama empat hari, derasnya arus sungai dan tumpukan bebatuan besar menjadi penghalang utama yang harus ditaklukkan demi membuka jalur kemanusiaan, Jumat 16 Januari 2026.
Tahun 2026 menjadi babak penting bagi masyarakat Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Wilayah yang sejak tahun 1996 tak pernah lagi dilalui kendaraan roda empat itu kini kembali tersambung. Penantian hampir tiga dekade berakhir ketika kendaraan off-road berhasil mencapai desa yang selama ini hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau jalur ekstrem.
Baca: Relawan Alam Gayo-HAkA Sigap Bantu Korban Bencana
Keberhasilan tersebut ditandai dengan masuknya kendaraan dari Land Rover Club Palembang (LRCP) dan Deep Forest Challenge (DFC). Jalur terjal, tanah longsor, serta lintasan berlumpur dengan kedalaman hingga lutut menjadikan misi distribusi bantuan sebagai tantangan berat yang menuntut ketelitian dan keberanian tinggi.
“Ini lebih dari sekadar aktivitas komunitas otomotif. Bantuan tidak boleh berhenti di posko. Ia harus sampai kepada warga yang benar-benar membutuhkan,” ujar salah satu anggota DFC.
Baca juga: Relawan Kemenkes: Faskes Terdampak Bencana, Obat Tidak Tersedia
Dengan dukungan alat berat untuk membuka jalur sungai dan memindahkan batu-batu besar, kendaraan taktis tersebut perlahan menembus hambatan alam. Keberhasilan ini mencerminkan bukan hanya keandalan teknologi kendaraan, tetapi juga keteguhan mental para pengemudi yang berperan sebagai perintis akses darurat.
Di balik pergerakan kendaraan, manajemen posko dijalankan secara solid oleh berbagai elemen relawan. Camping Holic ID bersama KOGANA memastikan sistem logistik dan kebutuhan dasar relawan maupun korban berjalan tertata dari posko induk.
Baca: Warga Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat Kala Ili
Sementara itu, relawan dari Ranita UIN Jakarta, Mahagapa, dan BIVAC melakukan pendataan langsung ke rumah-rumah warga. Dengan pengalaman di medan terbatas, mereka memastikan setiap bantuan disalurkan secara tepat dan merata.
Kontribusi juga datang dari FK-KBPABR, forum besar pecinta alam asal Jawa Barat. Kehadiran mereka memperkuat koordinasi lintas wilayah sekaligus membawa pendekatan teknis penanganan bencana pegunungan yang selama ini telah mereka terapkan.
Dalam rapat koordinasi di Posko Kolaborasi, Brigjen Ismed menilai upaya tersebut sebagai contoh nyata pertahanan sipil berbasis kolaborasi. Ia menyebut sinergi antara negara dan komunitas sebagai penerapan ideal konsep Pentahelix dalam penanggulangan bencana.
Baca: PMI Salurkan Bantuan dan Trauma Healing di Linge
“Negara tidak bisa bekerja sendiri. Ketika pemerintah memberi dukungan, dan masyarakat bergerak bersama, di situlah kekuatan bangsa terlihat,” ujarnya.
Selain bantuan fisik, masyarakat juga mendapatkan pembekalan mitigasi bencana. Melalui KOGANA, warga mulai diperkenalkan pada cara mengenali tanda-tanda alam sebagai langkah awal kesiapsiagaan mandiri.
Saat rombongan relawan akhirnya tiba di Reje Payung setelah melewati Delung Sekinel, suasana emosional tak terhindarkan. Warga menyambut kedatangan kendaraan berlumpur itu sebagai simbol harapan yang lama tertunda.
Baca: Warga Remukut Bangun Huntara Mandiri, Jamban Tidak Tersedia
“Sudah puluhan tahun mobil tidak pernah masuk ke desa ini. Hari ini kami menyaksikan sejarah baru,” ungkap salah seorang relawan.
Misi kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa kerja bersama mampu menembus keterbatasan. Bantuan bukan sekadar soal logistik, melainkan tentang memastikan tidak ada wilayah yang tertinggal, seberat apa pun medan dan sepanjang apa pun waktu yang harus ditempuh.