Buya Hamka: Ulama, Sastrawan, dan Pejuang Bangsa

  • 08 Nov 2025 11:37 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon: Di tepi Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908, lahirlah seorang anak yang kelak menjadi cahaya bagi bangsa Indonesia. Namanya Haji Abdul Malik Karim Amrullah — dunia mengenalnya sebagai Buya Hamka. Sosoknya bukan hanya ulama besar, tetapi juga sastrawan, budayawan, dan pemikir yang melintasi zaman.

Hamka tumbuh dalam keluarga religius. Ayahnya, Haji Rasul, adalah tokoh pembaharu Islam di Sumatera Barat. Sejak kecil, Hamka sudah akrab dengan kitab-kitab kuning dan diskusi keagamaan. Namun, semangatnya melampaui batas sekolah formal. Ia gemar membaca, belajar secara otodidak, dan tak segan berdialog dengan pemikiran-pemikiran modern.

Di usia muda, Hamka merantau ke Yogyakarta dan Jakarta, bergabung dengan pergerakan Muhammadiyah. Di sanalah gagasan Islam yang rasional, dinamis, dan terbuka mulai ia gaungkan. Ia bukan hanya seorang pendakwah di mimbar, tapi juga penulis yang tajam dan berpengaruh.

Buya Hamka menulis dengan hati. Novel-novelnya — seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli — bukan sekadar kisah cinta atau budaya, tapi cerminan batin manusia dan pergulatan antara adat, agama, serta kemanusiaan.

Karya-karya itu lahir dari kepekaannya terhadap realitas sosial, terutama nasib kaum muda dan perempuan. Ia percaya, sastra adalah jalan dakwah: lembut tapi dalam, indah tapi sarat makna.

Namun perjalanan hidup Buya Hamka tak selalu mulus. Pada masa pemerintahan Sukarno, ia sempat dipenjara selama dua tahun tanpa proses pengadilan karena dituduh terlibat dalam pemberontakan politik.

Ironisnya, justru di balik jeruji besi itulah Hamka menulis karya monumentalnya: Tafsir Al-Azhar, sebuah tafsir Al-Qur’an yang hingga kini menjadi rujukan penting di dunia Islam Nusantara.

Hamka tidak pernah menyimpan dendam. Setelah bebas, ia tetap berdakwah dengan penuh kasih dan kedamaian. Dalam setiap ceramahnya, ia menekankan pentingnya keikhlasan, akhlak, dan cinta tanah air.

“Jika engkau tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka engkau harus tahan dengan perihnya kebodohan,” demikian salah satu petuahnya yang abadi.

Sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, Buya Hamka berperan besar dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang moderat. Ia menolak keras segala bentuk kekerasan atas nama agama, dan menegaskan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

Ketika ia wafat pada 24 Juli 1981, ribuan orang mengiringi kepergiannya. Tangis duka bukan hanya datang dari umat Islam, tetapi juga dari lintas agama dan golongan — sebuah bukti betapa luasnya pengaruh dan cinta untuk sang Buya.

Kini, nama Buya Hamka diabadikan pada universitas, jalan, dan lembaga dakwah di seluruh Indonesia. Namun warisan sejatinya bukan sekadar nama, melainkan semangat untuk berpikir jernih, berjuang dengan pena, dan berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan.

Dari balik sejarah, Buya Hamka seolah berbisik kepada generasi muda: “Jangan takut menjadi diri sendiri, selama kebenaran yang kau pegang adalah cahaya yang membimbing langkahmu.”

Buya Hamka diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2011. Lebih dari sekadar gelar, pengakuan itu adalah penegasan bahwa perjuangannya di bidang agama, sastra, dan kebudayaan telah menorehkan jejak abadi bagi bangsa Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....