Didong, Seni Tradisional Gayo Penuh Nilai dan Makna
- 10 Okt 2025 10:24 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon : Didong merupakan salah satu kesenian tradisional khas masyarakat Gayo di Aceh yang memadukan unsur gerak, sastra, dan suara dalam satu pertunjukan yang harmonis. Dalam kesenian ini, sekelompok pria melantunkan syair berbahasa Gayo secara merdu sambil menabuh bantal atau gendang dan bertepuk tangan dengan ritme yang khas.
Kesenian ini sangat populer di kalangan masyarakat Gayo yang mendiami daerah pegunungan di tengah Aceh, terutama di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Didong sudah ada sejak zaman Kerajaan Linge dan berkembang hingga era kemerdekaan dan salah satu seniman yang mempopulerkan seni didong ini adalah Ceh Abdul Kadir To'et.
Pertunjukan Didong bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media penyampaian pesan sosial, keagamaan, dan pendidikan. Melalui syair-syairnya, Didong menyampaikan refleksi tentang kehidupan, nilai-nilai kebijaksanaan, serta ajaran Islam. Gerakan para pemain—yang disebut ceh-ceh—menambah keindahan visual dengan hentakan kaki, gerakan bahu, dan kepala yang ritmis mengikuti alunan suara dan tepukan.
Selain berfungsi sebagai hiburan rakyat, Didong juga memperkuat rasa kebersamaan dan identitas budaya masyarakat Gayo. Pertunjukan ini biasanya dimainkan secara berkelompok oleh pria. Durasi pertunjukannya bisa berlangsung semalam suntuk, dari waktu Isya hingga Subuh, menjadikannya tontonan sekaligus pengalaman budaya yang mendalam.
Dalam perkembangannya, Didong turut beradaptasi dengan zaman. Selain menggunakan bantal dan tepukan tangan sebagai alat pengiring tradisional, kini beberapa kelompok menambahkan alat musik seperti seruling dan harmonika untuk memperkaya harmoni suara. Keberadaan Didong menjadi simbol kebanggaan masyarakat Gayo sekaligus warisan budaya yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....