Polygamous Working, Cara Pekerja Bertahan dari Tekanan Ekonomi
- 09 Feb 2026 09:56 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID,Takengon : Praktik bekerja di lebih dari satu perusahaan tanpa sepengetahuan atasan kian menjamur sejak sistem kerja hybrid dan remote menjadi hal lumrah pascapandemi.
Fenomena ini dikenal dengan istilah polygamous working—bukan soal hubungan asmara, melainkan soal punya dua atau lebih pekerjaan penuh waktu secara bersamaan.
Istilah ini berbeda dengan moonlighting atau side hustle. Moonlighting biasanya merujuk pada pekerjaan tambahan di luar jam kerja utama, sementara side hustle umumnya berbentuk kerja lepas yang dikerjakan di waktu senggang.
Dalam polygamous working, seseorang memegang dua atau lebih pekerjaan penuh waktu sekaligus, dan dilakukan secara diam-diam.
Ciri khasnya pun khas era digital: hadir di rapat Zoom dengan kamera mati, berpindah-pindah agenda, dan bekerja jarak jauh sehingga nyaris tak terdeteksi.
Dulu, praktik seperti ini mungkin sulit dilakukan. Namun kini, dengan sistem kerja fleksibel, keberadaan karyawan ganda bisa luput dari pantauan.
Secara hukum, memiliki lebih dari satu pekerjaan sebenarnya tidak selalu dilarang. Namun persoalan bisa muncul ketika kontrak kerja mewajibkan karyawan melaporkan pekerjaan lain, melarang rangkap jabatan, atau mengatur soal kerahasiaan. Jika dilanggar, praktik ini bisa masuk ranah penipuan.
Kasus nyata pun sudah terjadi. Bulan lalu, seorang perempuan di Inggris dinyatakan bersalah karena memegang dua pekerjaan penuh waktu sekaligus di dua dewan kota berbeda, yakni Barnet dan Croydon dilansir dari theguardian. Aksinya dianggap merugikan negara karena gaji yang dibayarkan berasal dari dana publik.
Menariknya, tak sedikit yang mengaku kewalahan hanya dengan satu pekerjaan penuh waktu. Namun faktanya, ada pula kasus ekstrem. Pada Juli lalu, seorang pria dinyatakan bersalah atas penipuan setelah terbukti memegang empat pekerjaan sekaligus.
Fenomena ini memunculkan dilema baru di dunia kerja modern. Di satu sisi, kerja hybrid memberi fleksibilitas dan efisiensi. Di sisi lain, celah pengawasan membuka peluang penyalahgunaan.
Satu hal yang pasti, kerja fleksibel memang membawa banyak keuntungan bagi karyawan dan perusahaan. Namun, seperti kata pepatah, setiap kemudahan selalu datang bersama risikonya.