Thrifting Jadi Bagian Gaya Hidup Generasi Muda

  • 29 Mei 2026 15:42 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Kebiasaan berburu pakaian bekas atau thrifting kini semakin populer di kalangan anak muda. Tidak hanya dilakukan untuk mencari pakaian murah, thrifting juga mulai dianggap sebagai bagian dari gaya hidup dan cara mengekspresikan diri.

Di berbagai daerah di Indonesia, termasuk kota-kota kecil, toko pakaian bekas dan pasar thrifting mulai ramai dikunjungi anak muda, terutama akhir pekan. Beragam produk seperti jaket, kaos, celana, hingga sepatu bekas impor banyak diminati karena dinilai memiliki model unik dengan harga yang lebih terjangkau dibanding barang baru.

Fenomena ini juga berkembang pesat karena pengaruh media sosial. Banyak konten kreator membagikan hasil belanja thrifting mereka melalui TikTok maupun Instagram, sehingga membuat tren tersebut semakin dikenal luas.

Mengutip Laporan dari ThredUp Resale Report, pasar pakaian bekas global terus mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Generasi muda menjadi kelompok yang paling aktif membeli barang bekas karena faktor harga, gaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Selain dianggap lebih hemat, thrifting juga dinilai membantu mengurangi limbah fesyen atau fashion waste. Industri fesyen diketahui menjadi salah satu penyumbang limbah tekstil terbesar di dunia. Dengan membeli pakaian bekas yang masih layak pakai, masa penggunaan produk menjadi lebih panjang sehingga jumlah limbah dapat ditekan.

Namun di sisi lain, meningkatnya tren thrifting juga menimbulkan sejumlah dampak yang perlu diperhatikan.

Salah satunya adalah menurunnya minat membeli produk baru, terutama pada sektor fesyen lokal dengan harga menengah. Sebagian pelaku usaha pakaian mengaku harus bersaing dengan harga barang bekas impor yang jauh lebih murah.

Selain itu, produk thrifting yang tidak melalui proses pencucian dengan baik juga berisiko membawa jamur, bakteri, maupun kutu pada pakaian. Karena itu, masyarakat dianjurkan mencuci pakaian bekas dengan air panas atau deterjen sebelum digunakan.

Dari sisi perilaku konsumsi, tren thrifting juga dapat memicu kebiasaan belanja berlebihan karena harga barang yang dianggap murah. Tidak sedikit orang membeli pakaian yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya karena tergoda harga dan model yang unik.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai thrifting tetap dapat menjadi pilihan positif jika dilakukan secara bijak. Selain membantu menghemat pengeluaran, thrifting juga dapat mendukung konsep penggunaan ulang barang (reuse) yang lebih ramah lingkungan.

Di tengah tren fesyen yang terus berubah cepat, thrifting kini tidak lagi sekadar membeli pakaian bekas, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....