Pacuan Kuda Tradisional Gayo Berakhir, Simbol Kebangkitan Masyarakat Pasca Benca

  • 15 Jun 2026 19:12 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Perhelatan budaya dan olahraga terbesar masyarakat dataran tinggi Gayo, Pacuan Kuda Tradisional Gayo, resmi berakhir setelah berlangsung selama sepekan di Gelanggang Pacuan Kuda H.M. Hasan Gayo, Blang Bebangka, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (14/6/2026).

Mengusung tema “Solidaritas untuk Gayo: Gayo Pulih, Gayo Bangkit”, acara tahunan ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan kuda tradisional, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mempererat persatuan masyarakat serta membangkitkan semangat bersama setelah berbagai tantangan yang dihadapi daerah tersebut.

Sepanjang pelaksanaan acara, antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Ribuan penonton memadati arena pacuan untuk menyaksikan para joki muda memacu kuda-kuda terbaiknya menuju garis finis.

Sorak-sorai penonton yang memenuhi gelanggang menjadi gambaran nyata kecintaan masyarakat terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.

Pacuan Kuda Tradisional Gayo selama ini dikenal sebagai salah satu warisan budaya paling berharga bagi masyarakat Gayo. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi masyarakat.

Kehadiran ribuan pengunjung turut menggerakkan roda perekonomian daerah, mulai dari pelaku UMKM, pedagang kuliner, penyedia jasa transportasi, hingga sektor perhotelan dan pariwisata.

Tema yang diusung tahun ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Aceh Tengah. Sebagaimana diketahui, wilayah Aceh Tengah baru saja menghadapi bencana hidrometeorologi pada akhir tahun 2025 lalu.

Bencana tersebut menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah serta meninggalkan luka dan trauma mendalam bagi masyarakat yang terdampak.

Dalam konteks tersebut, Pacuan Kuda Tradisional Gayo menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Kegiatan ini menjadi simbol ketangguhan dan semangat masyarakat Gayo untuk bangkit dari masa-masa sulit.

Kebersamaan yang terjalin selama pelaksanaan acara mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat dalam membangun kembali harapan dan optimisme untuk masa depan yang lebih baik.

Melalui semangat “Gayo Pulih, Gayo Bangkit”, masyarakat menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai perekat sosial yang mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam menghadapi tantangan bersama.

Dengan berakhirnya Pacuan Kuda Tradisional Gayo, masyarakat berharap agenda budaya ini dapat terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai ikon kebanggaan Tanah Gayo, sekaligus menjadi daya tarik wisata unggulan yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada tingkat nasional maupun internasional. (AY)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....