Berikut Kebutuhan Tidur yang Anda Perlukan Berdasarkan Usia

  • 13 Agt 2026 07:36 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Kebutuhan tidur manusia terus berubah sepanjang kehidupan. Bayi dapat tidur hampir sepanjang hari, sementara remaja cenderung tidur lebih larut dan bangun lebih siang. Ketika memasuki usia lanjut, waktu tidur biasanya kembali lebih awal.

Perubahan tersebut merupakan bagian dari proses alami tubuh yang dipengaruhi pertumbuhan, perkembangan otak, hingga perubahan hormon dan ritme sirkadian.

Bayi Membutuhkan Tidur Lebih Lama

Bayi baru lahir hingga usia tiga bulan membutuhkan sekitar 14 hingga 17 jam tidur dalam sehari. Tidur sangat penting untuk pertumbuhan karena hormon pertumbuhan banyak dilepaskan ketika tubuh memasuki fase tidur dalam.

Dr. Yi Cai, direktur bedah tidur di Columbia University Irving Medical Center, menjelaskan bahwa pada masa awal kehidupan, banyak koneksi saraf baru terbentuk dan proses pembelajaran berlangsung sangat cepat.

“Banyak koneksi saraf baru yang sedang terbentuk, dan banyak proses pembelajaran baru yang sedang berlangsung. Segalanya merupakan hal baru bagi bayi, dan hal tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat mereka membutuhkan banyak tidur pada usia tersebut,” ujarnya, dikutip dari Time, Rabu (12/8/2026).

Memasuki usia empat hingga 12 bulan, kebutuhan tidur sedikit berkurang menjadi sekitar 12 hingga 16 jam per hari. Pada tahap ini, bayi mulai mengembangkan ritme sirkadian yang membuat pola tidur dan bangun lebih teratur.

Balita dan Anak Prasekolah

Mengutip dari sumber yang sama, Psikolog kesehatan yang berbasis di New York, Joshua Tal, mengatakan bahwa proses pembelajaran diperkuat saat kita tidur. Pada beberapa bulan pertama hingga satu atau dua tahun awal kehidupan, anak menyerap sebagian besar pengetahuan dasar yang menjadi fondasi perkembangannya.

“Ketika masih kecil, ada lebih banyak proses pembelajaran penting yang berlangsung. Pada masa itu, anak belajar mengenali orang-orang yang ada dalam kehidupannya serta memahami bahasa," ujarnya.

Anak usia satu hingga dua tahun membutuhkan sekitar 11 hingga 14 jam tidur per hari, kemudian menjadi 10 hingga 13 jam untuk usia tiga hingga lima tahun.

National Sleep Foundation menjelaskan pada usia sekitar 18 bulan, kebutuhan tidur siang balita umumnya berkurang menjadi satu kali sehari, dengan durasi sekitar satu hingga tiga jam,

Pada anak usia tiga hingga lima tahun, tidur siang mungkin masih diperlukan. Hal ini terutama karena imajinasi anak prasekolah yang semakin berkembang dapat memicu lebih banyak mimpi buruk atau rasa takut pada malam hari, seperti membayangkan monster di bawah tempat tidur atau makhluk menyeramkan di dalam lemari, yang dapat mengganggu waktu tidur.

Namun, tidak ada aturan yang berlaku mutlak untuk semua anak. Kebutuhan tidur, termasuk tidur siang, dapat berbeda secara signifikan antara satu anak dan anak lainnya.

Kebutuhan tidur berkurang seiring pertumbuhan fisik yang mulai melambat. Namun, tidur tetap penting untuk membantu otak mengolah dan menyimpan berbagai informasi yang dipelajari anak.

Anak Sekolah dan Remaja

Cai mengungkapkan bahwa anak usia enam hingga 12 tahun membutuhkan sekitar 9 hingga 12 jam tidur setiap malam. Pada usia ini, kebutuhan tidur siang biasanya sudah menghilang.

“Remaja usia 13 hingga 18 tahun membutuhkan sekitar 8 hingga 10 jam tidur setiap malam. Namun, jadwal tidur mereka cenderung bergeser, dengan waktu tidur menjadi lebih larut pada malam hari dan waktu bangun menjadi lebih siang pada pagi hari," ujar Cai.

Perubahan tersebut berkaitan dengan pelepasan hormon melatonin yang terjadi lebih lambat pada remaja. Akibatnya, sebagian remaja sulit mengantuk pada malam hari dan kesulitan bangun pagi.

Kondisi ini dapat menjadi masalah ketika jadwal sekolah mengharuskan remaja bangun sangat pagi. Kurangnya waktu tidur kemudian dapat membuat mereka mengantuk dan mencoba membayar kekurangan tidur pada siang hari.

Orang Dewasa

Setelah melewati masa pertumbuhan, kebutuhan tidur umumnya turun menjadi sekitar 7 hingga 8 jam setiap malam. Pada tahap ini, tubuh tidak lagi membutuhkan banyak energi untuk pertumbuhan sehingga tidur lebih berperan dalam menjaga fungsi tubuh dan otak.

Namun, jika seseorang secara konsisten membutuhkan tidur jauh lebih lama tetapi tetap merasa tidak segar setelah bangun, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan gangguan tidur.

Salah satunya adalah obstructive sleep apnea, ketika saluran pernapasan bagian atas mengalami penyempitan atau kolaps saat tidur sehingga seseorang mengalami gangguan pernapasan dan terbangun berulang kali.

Menurut Cai, obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif memengaruhi sekitar satu miliar orang di seluruh dunia dan menjadi salah satu penyebab utama terganggunya kualitas tidur.

“Saluran pernapasan bagian atas atau tenggorokan dapat mengalami penyempitan atau kolaps sepanjang malam. Kondisi ini menyebabkan seseorang mengalami terbangun sejenak berulang kali karena berhenti bernapas, sehingga tubuh membangunkannya agar dapat kembali mengambil napas. Hal tersebut dapat menyebabkan kualitas tidur yang sangat buruk dan tidur yang tidak membuat tubuh terasa segar setelah bangun,” jelasnya.

Lansia Cenderung Tidur Lebih Awal

Memasuki usia 65 tahun ke atas, produksi melatonin cenderung menurun. Akibatnya, tidur dapat menjadi lebih ringan dan pola tidur bergeser lebih awal.

“Ritme sirkadian juga mengalami pergeseran menjadi lebih awal, sehingga lansia cenderung tidur lebih cepat pada malam hari dan bangun lebih pagi,” ujar Tal.

Lansia biasanya lebih cepat mengantuk pada malam hari dan bangun lebih pagi. Perubahan fisik akibat usia, termasuk kondisi yang membuat seseorang lebih sering terbangun untuk ke kamar mandi, juga dapat mengganggu kualitas tidur.

Tidur Sesuai Kebutuhan Tubuh

Kebutuhan tidur memang berbeda berdasarkan usia, tetapi setiap orang tetap memiliki kebutuhan yang dapat berbeda secara individual. Jika seseorang mengalami kesulitan tidur yang berlangsung terus-menerus, sering terbangun, atau tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup, berkonsultasi dengan dokter atau spesialis tidur dapat membantu menemukan penyebabnya.

Tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi bagian penting dari proses pertumbuhan, pemulihan, dan menjaga kesehatan tubuh sepanjang kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....