Sebab Mengapa Kuat Bertawakkal kepada Allah
- 28 Feb 2026 07:52 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon ; Tawakkal bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan sikap hati yang penuh keyakinan kepada Allah ﷻ setelah melakukan ikhtiar terbaik. Dalam perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian, tawakkal menjadi penopang ketenangan jiwa dan kekuatan langkah.
Salah satu kisah indah tentang makna tawakkal diriwayatkan dari seorang ulama besar abad ke-3 Hijriah, Hatim Al Ashamm rahimahullah**. Ketika beliau ditanya, “Atas dasar apa engkau menyandarkan urusan kepada tawakkal?” maka beliau menjawab bahwa tawakkalnya dibangun di atas empat perkara.
Kisah ini juga disebutkan dalam kitab monumental karya Al-Dzahabi, yaitu Siyar A'lam An Nubala' (11/485).
Berikut empat sebab yang menjadikan seseorang kuat dalam tawakkal:
1. Meyakini Rezeki Tidak Akan Tertukar
Hatim Al Ashamm berkata, “Aku mengetahui bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka jiwaku pun tenang.”
Keyakinan ini menumbuhkan ketenteraman hati. Tidak ada rasa iri, dengki, atau gelisah melihat keberhasilan orang lain. Sebab setiap hamba telah Allah tetapkan jatahnya masing-masing. Tugas kita hanyalah berusaha dengan cara yang halal dan baik, sementara hasilnya kita serahkan kepada-Nya.
Tawakkal menjauhkan kita dari kecemasan berlebihan terhadap urusan dunia.
2. Menyadari Amal Tidak Bisa Diwakilkan
Beliau berkata, “Aku tahu bahwa amalku tidak akan diamalkan oleh orang lain, maka aku pun sibuk mengamalkannya.”
Ini adalah prinsip tanggung jawab pribadi. Ibadah, kebaikan, dan amal saleh tidak dapat dipindahkan atau ditukar. Tidak ada orang yang bisa menggantikan shalat, sedekah, atau taubat kita.
Kesadaran ini mendorong seorang Muslim untuk fokus memperbaiki diri, bukan sibuk menilai orang lain. Tawakkal bukan berarti pasif, tetapi aktif dalam amal dan berserah diri dalam hasil.
3. Mengingat Kematian Datang Tiba-Tiba
Beliau melanjutkan, “Aku tahu bahwa kematian datang tiba-tiba, maka aku pun bersegera sebelum kematian datang.”
Kematian adalah rahasia Allah. Tidak ada yang tahu kapan dan di mana ajal menjemput. Kesadaran ini membuat seseorang tidak menunda taubat, tidak menunda kebaikan, dan tidak menunda perubahan diri.
Tawakkal menjadikan hidup lebih terarah—bukan sekadar mengejar dunia, tetapi mempersiapkan bekal akhirat.
4. Merasa Selalu Dalam Pengawasan Allah
Hatim Al Ashamm berkata, “Aku tahu bahwa aku tidak lepas dari pengawasan Allah, maka aku pun malu kepada-Nya.”
Inilah puncak dari keimanan: merasa diawasi dalam setiap keadaan. Saat sendiri maupun di tengah keramaian, Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.
Rasa muraqabah (merasa diawasi) melahirkan rasa malu untuk berbuat maksiat dan dorongan kuat untuk berbuat kebaikan. Tawakkal tumbuh subur dalam hati yang sadar akan pengawasan Rabb-nya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....