Gula Darah Tinggi, Belum Tentu Diabetes

  • 19 Feb 2026 08:38 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna – Gula darah tinggi (hiperglikemia) tidak selalu berarti seseorang menderita diabetes. Diagnosis diabetes memerlukan pemeriksaan lanjutan (HbA1c, gula darah puasa) untuk memastikan kondisi kronis, bukan sekadar peningkatan sesaat

Menurut Dokter Aprikonus Loris Spesialis Penyakit Dalam kepada RRI.CO.ID, hal tersebut merupakan kondisi hiperglikemia sementara atau terjadi peningkatan kadar gula darah sementara.

“Pertanyaannya, apakah pasien ini sudah diabetes atau tidak? Data lain yang kami peroleh pasien mengalami obesitas dengan kadar gula 238 sesudah makan. Belum tentu Bapak Ibu, belum tentu diabetes,” ujarnya.

Dikatakan dokter Apri, penyebabnya yang pertama diantaranya stres hiperglykemia. Bisa disebabkan oleh karena stres fisik, stres mental maupun infeksi di dalam tubuh sehingga meningkatkan terjadinya kadar gula darah di dalam darah.

Yang kedua, disebabkan oleh post prandial hiperglikemia atau terjadi peningkatan kadar gula darah di dalam darah oleh karena sesudah makan.

“Apapun itu, apabila terjadi peningkatan kadar gula darah ini menjadi tanda awas bagi kita. Apakah sudah terjadi gangguan pada pengelolaan atau pengaturan kadar gula darah di dalam tubuh kita atau tidak?,” ucapnya.

Jika terjadi hal demikian, Dokter Apri menyarankan untuk menurunkan berat badan dengan pengaturan pola makan. Seperti menghindari makanan yang mengandung tinggi kadar gula, minuman bersoda atau minuman yang lain yang mengandung tinggi kadar gula.

Meningkatkan aktivitas fisik, berolahraga, seperti kardio lakukan 3 kali dalam seminggu minimal 30 menit dalam sehari. Meningkatkan makanan yang mengandung tinggi serat, manajemen stres yang baik, hidrasi yang cukup, minum 2 liter per hari minimal sesuai dengan aktivitas fisik.

Kemudian lakukan pengecekkan kembali kadar gula darah. Puasanya harus di bawah 126, sesudah makan harus di bawah 200. Serta lakukan pemeriksaan HbA1c, untuk memastikan dalam 3 bulan ini pengaturan kadar gula darahnya sudah baik atau tidak.

“Jadi, inti pada pasien ini adalah bagaimana kita melakukan deteksi secara dini, kemudian kita melakukan pencegahan sebelum terjadi yang namanya diabetes,” kata Dokter Apri. (Ac)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....