Dampak El Nino di Kepulauan Sangihe dan Langkah Penanganannya
- 07 Mei 2026 11:44 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Sebagai wilayah kepulauan yang banyak bergantung pada pertanian, perikanan, dan sumber air alami, masyarakat Sangihe merasakan dampak El Nino secara langsung melalui perubahan cuaca yang lebih panas dan musim kemarau yang lebih panjang. Apa sebenarnya El nino itu ? El Nino merupakan anomali atau penyimpangan iklim yang terjadi secara periodik, sekitar 3 hingga 7 tahun sekali. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang memengaruhi pola cuaca global, termasuk di Indonesia.
Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat Sangihe adalah berkurangnya curah hujan. Kondisi ini menyebabkan beberapa sumber air bersih mulai menurun debitnya. Sumur dan mata air menjadi lebih cepat kering, terutama di daerah yang sulit mendapatkan pasokan air.
Cuaca panas yang berlangsung cukup lama juga memengaruhi sektor pertanian. Tanaman mengalami penurunan produktivitas akibat kekurangan air. Kekeringan berkepanjangan dapat menyebabkan hasil panen menurun bahkan gagal panen. Di Pasar Towo’e, salah satu pasar tradisional yang ada di Sangihe, harga berbagai sayuran dan rempah mulai merangkak naik. Sayur pakis (bahasa lokal Sayur Paku) misalnya, harga normal 5000 rupiah per ikat tapi sekarang menjadi 7000 rupiah. Demikian juga dengan beberapa jenis sayur dan rempah lainnya.
Selain itu, kondisi cuaca yang kering meningkatkan risiko kebakaran lahan dan hutan. Rumput serta semak yang mengering menjadi mudah terbakar, terutama saat angin kencang. Walaupun sampai saat ini belum ada laporan mengenai kebakaran hutan dan lahan.
Dampak lainnya adalah meningkatnya suhu udara yang membuat masyarakat lebih mudah mengalami dehidrasi, kelelahan, dan gangguan pernapasan akibat debu.
El Nino juga dapat memengaruhi ketersediaan pangan dan ekonomi masyarakat. Ketika hasil pertanian menurun, harga bahan pokok berpotensi naik sehingga kebutuhan masyarakat menjadi lebih mahal.
Menghadapi dampak El Nino, masyarakat Sangihe perlu melakukan langkah antisipasi sejak dini. Menurut Astrid Yesica Lasut, Kepala Stasiun Meteorolgi Kelas 3 Naha, masyarakat harus menggunakan air secara hemat dan bijak serta tidak melakukan pembakaran sembarangan. Petani juga disarankan memilih komoditas tanaman yang tahan kekeringan dan memiliki usia tanam lebih pendek.
Selain itu, menjaga kesehatan juga penting dilakukan dengan mencukupi kebutuhan air minum dan menggunakan masker guna mengurangi dampak polusi udara.
Fenomena El Nino memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat di Kepulauan Sangihe, terutama pada sektor pertanian, kesehatan, dan ketersediaan air bersih. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah untuk menghadapi kondisi ini dengan bijak dan penuh kesiapsiagaan.
Semoga kita semua dapat menjaga lingkungan, menggunakan sumber daya dengan hemat, dan tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi. (Arsitini)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....