Keberanian Iman di tengah Ancaman dan Keraguan

  • 30 Mar 2026 10:06 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Sering kali, banyak orang merasa lebih aman “bersembunyi” ketika situasi tidak kondusif atau saat identitas iman mulai dipertanyakan. Namun, refleksi dari bacaan dalam Mimbar Agama Katolik yang disampaikan Febiyola Silangen, penyuluh agama katolik, justru menunjukkan sikap berbeda yang diteladankan oleh Yesus.

Dalam kisah Injil, Yesus awalnya berada di Galilea karena adanya ancaman pembunuhan di Yudea. Meski demikian, saat Hari Raya Pondok Daun tiba, Ia tetap pergi ke Yerusalem. Ia datang secara diam-diam, tetapi kemudian tampil mengajar di Bait Allah dengan penuh keberanian. Situasi ini memperlihatkan ketegangan: ancaman nyata di satu sisi, dan keberanian untuk menyatakan kebenaran di sisi lain.

Sikap Yesus menunjukkan ketaatan penuh pada kehendak Allah. Ia tidak bertindak karena tekanan sosial atau demi popularitas, melainkan mengikuti waktu yang telah ditentukan Bapa. Keheningan langkah-Nya bukan tanda ketakutan, tetapi bentuk kebijaksanaan dalam menjalankan misi ilahi.

Di sisi lain, masyarakat saat itu gagal mengenali identitas Yesus sebagai Mesias. Mereka terjebak pada penilaian lahiriah, seperti asal-usul dan latar belakang-Nya. Hal ini menjadi pengingat bahwa manusia sering merasa sudah mengenal Tuhan, padahal hanya sebatas pengetahuan permukaan.

Meski menghadapi penolakan dan ancaman, misi Yesus tetap berjalan. Tidak ada satu pun yang mampu menghentikan-Nya sebelum waktunya tiba, karena penyertaan Allah selalu ada dalam setiap langkah-Nya.

Melalui refleksi ini, umat diajak untuk tidak takut menyatakan kebenaran iman. Ancaman, penolakan, atau penilaian negatif tidak seharusnya menghentikan langkah dalam mewartakan kasih. Fokus utama bukan pada siapa yang menolak, melainkan pada Tuhan yang mengutus. (Arsitini)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....