Siswa SMAN 2 Tahuna Tekuni Seni Tagonggong

  • 04 Feb 2026 17:03 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Anggapan bahwa generasi muda mulai meninggalkan kebudayaan daerah perlahan terbantahkan. Hal ini dibuktikan oleh Allan Surati, siswa kelas XI SMA Negeri 2 Tahuna, yang secara konsisten menekuni seni musik tradisional Tagonggong di tengah gempuran tren modernitas.

Dalam program Sore Ceria Pro2 RRI Tahuna, Selasa (3/2/2026), Allan membagikan pengalamannya sebagai praktisi muda musik tradisional Sangihe. Baginya, keikutsertaan dalam perayaan sakral seperti upacara Tulude bukan sekadar kewajiban, melainkan kebanggaan atas identitas diri.

Ia menjelaskan bahwa memainkan Tagonggong tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Setiap jenis pukulan memiliki makna dan kegunaan tertentu yang disesuaikan dengan suasana acara. Salah satu yang paling ikonik adalah ritme atau nada "Balang".

"Nada Balang ini biasanya digunakan khusus saat menjemput tamu atau dalam iring-iringan. Jadi tidak semua orang bisa asal memukul, karena ada ritme dan chemistry tertentu yang harus terbangun dengan alat musik tersebut," ujar Allan.

Keahlian Allan dalam menabuh Tagonggong ternyata merupakan warisan keluarga. Pemuda asal Bowongkali ini mengaku mulai mempelajari seni tersebut sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Meski awalnya hanya melihat kakek (Opa) dan pamannya bermain, ketertarikan itu akhirnya tumbuh menjadi dedikasi.

Meskipun beberapa rekan sebayanya yang dahulu belajar bersama kini mulai jarang aktif karena kesibukan bekerja, Allan tetap bertahan. Ia bahkan aktif mengikuti berbagai pagelaran seni lainnya.

Kehadiran Allan Surati menjadi tamu sore di studio Pro2 RRI Tahuna menjadi bukti nyata bahwa seni tradisional Sangihe masih memiliki masa depan. Ia berharap lebih banyak siswa dan anak muda yang tertarik untuk belajar, agar alat musik seperti Tagonggong tidak hanya menjadi benda museum, tetapi tetap berbunyi di setiap hajatan adat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....