Pancasila yang Tak Goyah: Menjaga Ideologi, dan Merawat Kebinekaan
- 01 Okt 2026 22:13 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kata "sakti" di sini sama sekali tidak berhubungan dengan hal mistis atau kualitatif gaib, melainkan sebuah simbol keteguhan dan daya tahan Pancasila sebagai dasar negara.
Pancasila terbukti tetap berdiri kokoh meski terus-menerus dihantam ancaman perpecahan, termasuk saat meletusnya peristiwa kelam G30S/PKI pada tahun 1965.
Peringatan ini menjadi momen penghormatan mendalam bagi para Pahlawan Revolusi yang gugur demi mempertahankan keutuhan bangsa. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, peringatan ini memancarkan pesan kuat: Pancasila adalah pondasi utama yang merekatkan keanekaragaman suku, ras, agama, dan budaya di seluruh pelosok Nusantara.
Lantas, bagaimana kita menularkan semangat ini kepada generasi penerus?
Keteladanan Nyata: Generasi muda butuh bukti, bukan sekadar instruksi. Sikap tenggang rasa dan integritas yang ditunjukkan oleh orang tua serta pemimpin akan menjadi contoh hidup yang paling ampuh.
Bahasa Masa Kini: Narasi kebangsaan perlu dikemas kreatif melalui media digital, seni, dan ruang diskusi yang interaktif agar relevan dengan dinamika anak muda.
Aksi Sosial Kolaboratif: Mengajak generasi muda terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, gotong royong, dan pemberdayaan masyarakat untuk merasakan langsung indahnya persatuan.
Pancasila terbukti tetap berdiri kokoh meski terus-menerus dihantam ancaman perpecahan, termasuk saat meletusnya peristiwa kelam G30S/PKI pada tahun 1965.
Peringatan ini menjadi momen penghormatan mendalam bagi para Pahlawan Revolusi yang gugur demi mempertahankan keutuhan bangsa. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, peringatan ini memancarkan pesan kuat: Pancasila adalah pondasi utama yang merekatkan keanekaragaman suku, ras, agama, dan budaya di seluruh pelosok Nusantara.
Mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur," peringatan ini memanggil kita untuk merefleksikan kembali cara memaknai Pancasila.
Memaknai Pancasila tidak cukup hanya dengan menghafal kelima silanya, melainkan mewujudkannya dalam tindakan nyata—mulai dari mempraktikkan toleransi, saling menghormati perbedaan, mengedepankan musyawarah, hingga menegakkan keadilan sosial di lingkungan terdekat kita.
Lantas, bagaimana kita menularkan semangat ini kepada generasi penerus?
Menanamkan nilai Pancasila kepada generasi muda butuh pendekatan yang adaptif dan relevan dengan zaman:
Keteladanan Nyata: Generasi muda butuh bukti, bukan sekadar instruksi. Sikap tenggang rasa dan integritas yang ditunjukkan oleh orang tua serta pemimpin akan menjadi contoh hidup yang paling ampuh.
Bahasa Masa Kini: Narasi kebangsaan perlu dikemas kreatif melalui media digital, seni, dan ruang diskusi yang interaktif agar relevan dengan dinamika anak muda.
Aksi Sosial Kolaboratif: Mengajak generasi muda terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, gotong royong, dan pemberdayaan masyarakat untuk merasakan langsung indahnya persatuan.
Hari Kesaktian Pancasila adalah alarm pengingat bahwa ideologi ini hidup karena kita merawatnya. Dengan menjadikan Pancasila sebagai kompas moral dalam berbangsa, jalan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang kita bangun bersama. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....