Rumah Belajar Pancasila, Gerakkan Semangat Belajar Anak

  • 14 Agt 2026 18:11 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SURAKARTA – Komunitas Rumah Belajar Pancasila hadir sebagai gerakan sosial di bidang pendidikan yang memberikan ruang belajar bagi anak-anak di luar jam sekolah. Selain membantu pembelajaran akademik, komunitas tersebut menanamkan nilai-nilai Pancasila dan karakter kepada peserta didik melalui kegiatan yang menyenangkan.

Hal tersebut disampaikan penggerak Rumah Belajar Pancasila, Mentari Rosesitha D.K. dan Ester Manora P., dalam program Obrolan Komunitas RRI Surakarta, Selasa, Agustus 2026. Mentari mengatakan, Rumah Belajar Pancasila berawal dari keresahan melihat anak-anak yang membutuhkan tempat aman untuk belajar setelah pulang sekolah, terutama ketika orang tua tidak dapat memberikan pendampingan secara optimal.

“Kami melihat banyak anak-anak itu kehilangan tempat yang aman untuk belajar, terutama di jam-jam after school setelah sekolah,” ujar Mentari. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong komunitas menghadirkan ruang belajar di sejumlah wilayah dengan melibatkan relawan lokal sebagai pendamping.

Mentari menjelaskan, nama Rumah Belajar kemudian dilengkapi dengan Pancasila karena komunitas tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter anak. Hal tersebut sejalan dengan tagline “Pribadi Cerdas Berkarakter Pancasila” yang menjadi gambaran tujuan gerakan komunitas.

Saat ini, Rumah Belajar Pancasila memiliki tiga program utama, yakni Calistung Pancasila, Bimbingan Belajar Pancasila, dan Sekolah Digital Pancasila. Calistung ditujukan bagi anak pra-SD hingga SD, sedangkan bimbingan belajar membantu peserta memahami pelajaran sekolah dan Sekolah Digital Pancasila memberikan kesempatan belajar kembali bagi anak yang putus sekolah.

Ester menjelaskan, kegiatan belajar diawali dengan pembiasaan yang mengenalkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak. “Kami ingin anak-anak lebih mengenal tentang bangsa Indonesia, kita buka dengan lagu Indonesia Raya,” ucap Ester.

Nilai-nilai Pancasila juga dikemas melalui permainan dan kegiatan yang menyenangkan agar lebih mudah dipahami anak-anak. Setiap bulan, peserta dikenalkan dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan melalui berbagai aktivitas pembelajaran.

Selain pembelajaran akademik, Rumah Belajar Pancasila mengadakan kegiatan seperti cooking class, kunjungan ke museum, hingga pengenalan lingkungan. Pendekatan tersebut dilakukan agar anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih beragam sekaligus memahami nilai-nilai yang diajarkan melalui pengalaman langsung.

Salah satu tantangan yang masih dihadapi komunitas adalah keterbatasan relawan pengajar karena seluruh kegiatan diberikan secara gratis. Kondisi tersebut membuat Rumah Belajar Pancasila mengandalkan masyarakat yang bersedia meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak dalam kegiatan belajar.

Di Solo, kegiatan Rumah Belajar Pancasila saat ini aktif di Kelurahan Joyosuran dan berlangsung setiap Selasa sore. Perkembangan jumlah peserta menjadi salah satu hal yang berkesan bagi Ester karena jumlah anak yang mengikuti kegiatan meningkat dari sekitar 15 menjadi sekitar 60 anak.

Ester mengatakan, informasi mengenai kegiatan tersebut juga menyebar dari anak ke anak hingga menarik teman-teman mereka untuk ikut belajar. “Kami kadang kewalahan lihat anak-anak ini banyak sekali, mereka dengan semangat datang,” ujar Ester.

Sementara itu, tantangan lain yang menjadi perhatian komunitas adalah mengembalikan semangat belajar anak yang sudah putus sekolah. Mentari mengatakan, upaya tersebut tidak mudah karena sebagian anak sudah bekerja, menikah, atau merasa tidak lagi membutuhkan sekolah.

Meski demikian, keberhasilan dua anak yang mengikuti program Sekolah Digital Pancasila hingga lulus menjadi penyemangat bagi para relawan untuk terus bergerak. Capaian tersebut dinilai menunjukkan bahwa pendampingan dan kesempatan belajar dapat membuka kembali jalan pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya terputus dari sekolah.

Mentari menegaskan, Rumah Belajar Pancasila tidak bermaksud menggantikan peran pemerintah, tetapi menjadi bagian dari gerakan gotong royong untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan yang belum terjangkau. “Kita tidak bisa berjalan sendiri, siapapun kalian di sana, kalian dibutuhkan untuk bergerak bersama,” kata Mentari.

Ia mengajak masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan untuk ikut mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi untuk membangun masa depan bangsa.

Ester menambahkan, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. “Kita pegang masa depan lewat pendidikan,” kata Ester. (Citra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....