Ironi Kabupaten Klaten, Kota 1000 Umbul Hadapi Kekeringan di Lereng Merapi

  • 14 Sep 2026 22:14 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Klaten - Ironi yang getir tengah menimpa Kabupaten Klaten. Daerah yang selama ini bangga dengan julukan "Kota 1000 Umbul" atau surga mata air, ternyata harus menyaksikan lebih dari 14.000 jiwanya menjerit akibat krisis air bersih.

Ketika wilayah seperti Polanharjo, Tulung, Kebonarum, dan Jatinom berlimpah air segar hingga menjadi destinasi wisata populer, saudara-saudara kita di lereng Gunung Merapi—khususnya Kecamatan Kemalang, harus bertaruh hidup melawan kekeringan saban musim kemarau tiba. Belum lagi kawasan Cawas dan Bayat yang merupakan kawasan pegunungan kapur juga sulit mendapatkan air bersih.

Fenomena ini memperlihatkan betapa timpangnya geografis dan infrastruktur di Klaten. Melimpahnya umbul di kawasan tengah tak serta-merta bisa dinikmati warga di lereng gunung. Secara teknis, mengalirkan air dari bawah menanjak ke wilayah atas Merapi bukanlah perkara mudah. Alhasil, metode dropping air bersih menggunakan truk tangki masih menjadi tumpuan utama.

Namun, mengandalkan truk tangki bukanlah solusi jangka panjang yang ramah kantong. Di tengah efisiensi anggaran dan melonjaknya harga BBM non-subsidi, biaya operasional dropping air bersih kian membengkak. Beban ini tak hanya menekan APBD Pemkab Klaten, tetapi juga langsung memukul ekonomi warga.

Realita di lapangan sungguh memprihatinkan. Warga terdampak seperti di Desa Sidorejo harus merogoh kocek Rp170.000 hingga Rp220.000 hanya untuk membeli satu tangki air yang dicukup-cukupkan untuk sebulan. Demi bertahan hidup, tidak sedikit warga yang terpaksa menjual hewan ternak mereka hanya demi membeli air bersih. Sebagian lainnya terpaksa memangkas jatah minum untuk ternak, yang padahal merupakan tabungan dan mata pencaharian utama mereka.

Langkah taktis Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, bersama BPBD dan mitra strategis baru-baru ini patut diapresiasi. Kerja sama dengan Dewan Dakwah Indonesia untuk mengalirkan air sepanjang 1,5 kilometer ke Desa Sidorejo dan Kendalsari, serta rencana pembuatan sumur dalam oleh BBWS Bengawan Solo di Tlogowatu dan Tegalmulyo, membawa angin segar dan harapan baru.

Krisis air di Klaten adalah pengingat keras bahwa predikat "Kota 1000 Umbul" tidak boleh hanya menjadi slogan manis atau pemanis pariwisata semata. Keadilan ekologis dan pemerataan akses air bersih harus benar-benar diwujudkan. Jangan sampai di tanah yang kaya akan sumber mata air, warganya justru harus 'menjual masa depan' mereka hanya untuk setetes air bersih. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....