Serangan Umum Solo, Perkokoh Semangat Nasiolisme

  • 11 Agt 2026 05:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Serangan Umum Solo pada Minggu, 7 Agustus 1949 bukan hanya peristiwa perang, namun menjadi pelajaran hidup tentang apa itu "Indonesia".

Pasca Agresi Militer II, Belanda menyebar propaganda, "RI sudah mati". Solo menjawab melalui peluru dan dengan lantang menegaskan “Kami masih hidup” ,

Gelora semangat itu kembali digetarkan pada komentar pagi RRI Surakrata Selasa (11 Agustus 2026) yang disampaikan Ketua Pemberitaan RRI Surakarta Agus Yoga).

Bangsa yang besar tidak akan mati walau ibukotanya jatuh. Selama rakyatnya masih melawan.

Menurut Agus Yoga, kala itu berjuang melalui semangat gotong rotong tanpa sekat. Maju perang mulai dari TNI, Laskar, Pelajar, Pedagang bahkan ibu-ibu rumah dapur umum ikut terlibat. Tidak ada pangkat, partai serta tidak ada kaya-miskin. Adanya hanya "demi Merah Putih dan Merdeka.

Nasionalisme langkah nyata persatuan itu bukan slogan. Pejuang dibayar dengan keringat dan darah, mereka bersama tidak mencari pujian dan penghormatan.

Berani karena benar, telah terbukti diwujudkan para pahlawan kita … mereka tak gentar melawan tank, pesawat bahkan senapan otomatis. Dengan lantang Letkol Slamet Riyadi mengobarkan semangat “Lebih baik hancur lebur daripada dijajah lagi". Kebenaran sebuah dorongan orang lemah menjadi kuat, penjajahan dan kezaliman harus dilawan walau berat,

Pembaca rri.co.id, para pejuang kita yang gugur hanya berpikir untuk anak-cucunya nanti. Supaya kedepan bisa sekolah, berdagang, hidup layak serta menyampaikan pendapat tanpa intimidasi.

Sehingga berpendapat nasionalisme: Nasionalis sejati itu yang mau berkorban untuk orang yang belum dia kenal.

Serangan Umum Solo setidaknya ada 3 (tiga) hal yang menjadi Pelajaran generasi sekarang.

-Dulu 1949 melawan penjajah, untuk sekarang ayo lawan malas, korupsi, hoax, pecah belah.

-Dulu di tahun 1949, Bela tanah air dengan senjata, untuk sekarang ayo bela tanah air dengan kerja, prestasi, produk local

-Merdeka atau Mati, sekarang Maju atau Mundur - Nasib bangsa di tangan kita

Selain 3 (tiga) diatas, setidaknya juga ada 3 refleksi untuk kita warga Solo Raya dari pejuang :

-Kami berani mati buat bendera merah mkerah, bagaimana dengan warga Solo Raya berani jujur untuk negara kita tidak?

-Kami bersatu lawan Belanda, bagaimana dengan warga Solo Raya masih mau ribut terkait hal yang tidak produktif yang berdampak memecah belah persatuan.

-Kami rela lapar demi Merdeka, bagaimana dengan warga Solo Raya, rela beli produk lokal tidak?

“Tugas kita saat ini lebih ringan tidak usah beperang, cukup kerja dengan jujur, jaga persatuan dan bangga memiliki Indonesia,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....