Inflasi Solo Capai 3,44 Persen, Daging Ayam Ras Jadi Penyumbang Utama
- 06 Okt 2026 18:50 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta mencatat inflasi Kota Surakarta sebesar 3,44 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi tahunan pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar 3,40 persen.
Kepala BPS Kota Surakarta, Ratna Setyowati, dalam rilisnya Kamis 1 Oktober 2026, mengatakan sejumlah fenomena sepanjang September berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap perubahan harga di pasaran. Kondisi cuaca dan sejumlah kebijakan menjadi faktor yang turut memengaruhi komoditas penyumbang inflasi.
Ratna mengatakan fenomena El Nino yang diprediksi BMKG berpotensi sangat kuat dapat menunda musim hujan hingga awal 2027. Kondisi tersebut berpotensi mengancam produktivitas padi dan palawija yang sangat bergantung pada ketersediaan pasokan air.
Selain faktor cuaca, BPS mencatat adanya penurunan produktivitas cabai dari sejumlah sentra produksi, antara lain Magelang dan Malang. Kondisi tersebut turut memengaruhi ketersediaan komoditas cabai di pasaran Kota Surakarta.
Sementara itu, daging ayam ras memberikan andil besar terhadap kenaikan harga pada September 2026. Ratna menyebut peningkatan permintaan, salah satunya akibat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut mendorong kenaikan harga daging ayam ras.
“Permintaan daging ayam ras di September lebih tinggi didorong program MBG serta kenaikan harga pakan. Pakan ternak juga mendorong harga daging ayam mengalami kenaikan,” ujar Ratna.
Selain daging ayam ras, beras juga menjadi perhatian BPS karena masuk dalam lima komoditas yang memberikan andil besar terhadap inflasi September 2026. Komoditas lainnya yang disebut memberikan andil besar antara lain cabai rawit, telepon seluler, dan jeruk.
“Sedangkan beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, di mana komoditas emas masuk di dalamnya,” kata Ratna.
Di luar kelompok pangan, komoditas emas masih menjadi salah satu penyumbang inflasi tahunan terbesar di Kota Surakarta. BPS juga akan melakukan survei pola konsumsi rumah tangga untuk memperbarui gambaran komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Ratna menambahkan survei tersebut diperlukan karena pola konsumsi masyarakat dinilai telah mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Hasil survei diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih sesuai mengenai pola konsumsi rumah tangga di Kota Surakarta. (SIFA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....