Harapan Baru dari Polokarto Angka Kematian Ibu dan Balita, Bidik Target Zero Kasus

  • 17 Sep 2026 15:12 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kehamilan seharusnya menjadi sebuah perjalanan penuh suka cita yang berujung pada tangisan bahagia buah hati.

Namun, bagi sebagian orang, perjalanan tersebut justru menyimpan risiko yang mengancam nyawa.

Realitas pahit inilah yang kini menjadi alarm keras bagi tenaga kesehatan di Kabupaten Sukoharjo.

Sepanjang tahun 2026, catatan mencatat adanya 1 kasus kematian ibu dan 8 kematian bayi serta balita di wilayah kerja Puskesmas Polokarto.

Angka ini sontak menjadi sorotan tajam dalam Forum Komunikasi Publik (FKP) yang digelar di Puskesmas Polokarto, Kamis 17 September 2026.

Terlebih, pada tahun 2025 lalu, wilayah ini sempat mencatatkan status nihil atau tanpa kasus kematian ibu.

Kepala Puskesmas Polokarto, dr. Novia Dwi Ernawati, tak menampik bahwa lonjakan angka ini menjadi pukulan sekaligus bahan evaluasi besar bagi seluruh lintas sektor.

"Di tahun 2026 ini ada satu kasus kematian ibu dan ada delapan kematian bayi-balita. Ini menjadi perhatian kami dan perlu dievaluasi bersama," ujar Novia.

Berdasarkan catatan medis, bayang-bayang kelam kematian ibu di Polokarto terjadi pada Februari 2026. Seorang ibu berusia 28 tahun menghembuskan napas terakhirnya pada masa nifas hari kesembilan.

Evaluasi medis menunjukkan, maut datang akibat syok sepsis yang dipicu oleh perdarahan pascapersalinan, retensi sisa plasenta, serta diperparah oleh edema paru.

Sementara itu, dari delapan kasus kematian bayi dan balita, rinciannya meliputi empat kasus kematian di dalam rahim (stillbirth) serta empat kasus kematian bayi.

Dari empat kematian bayi tersebut, tiga di antaranya terjadi pada masa neonatal (usia 0-28 hari) dan satu pada fase bayi, tanpa ada kasus kematian balita.

Kasus kematian dalam rahim umumnya berkaitan dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) dan kondisi prematur dari kehamilan berisiko tinggi.

Faktor penyerta seperti hipertensi hingga riwayat obstetri yang buruk turut memperbesar celah risiko. Adapun kematian bayi dipicu oleh ragam kondisi medis, mulai dari kelainan kongenital, BBLR-prematur, aspirasi pneumonia, hingga asfiksia.

Menghadapi tantangan ini, Puskesmas Polokarto memilih untuk tidak tinggal diam. Upaya pencegahan kini digenjot jauh-jauh hari sejak masa awal kehamilan.

Salah satu garda terdepan yang diandalkan adalah program Kelas Ibu Hamil yang masif digelar di seluruh 17 desa di wilayah kerja Polokarto.

"Di setiap desa ada kelas ibu hamil. Di sana dibahas bagaimana menjalani kehamilan dan persalinan yang sehat," terang Novia.

Tak sekadar menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan, tenaga medis bersama para pahlawan kesehatan garda bawah—yakni bidan desa dan kader posyandu—turun langsung melakukan jemput bola.

Mereka mendatangi satu per satu rumah ibu hamil, baik yang sudah masuk dalam data resmi maupun yang luput dari pendataan.

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi napas utama agar tidak ada lagi ibu hamil berisiko tinggi yang luput dari pantauan medis.

Langkah taktis Puskesmas Polokarto ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah kecamatan.

Camat Polokarto, Heri Wahyu Cahyono, menegaskan bahwa Forum Komunikasi Publik bukan sekadar acara seremonial, melainkan ruang strategis untuk merapatkan barisan menghadapi persoalan kesehatan warga.

"Dimulai dari pencegahan dari awal, deteksi dini baik untuk ibu maupun anak. Jangan sampai ke depan ada ibu hamil, khususnya di wilayah Kecamatan Polokarto, yang luput dari perhatian kita semuanya," ujar Heri.

Menurutnya, melalui sinergi erat antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga kesadaran keluarga, secercah harapan kini disematkan.

"Target zero atau nol kasus kematian ibu dan anak bukan lagi sekadar angan, melainkan tekad bersama demi menyelamatkan generasi masa depan dari jantung Polokarto," pungkasnya. (Edwi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....