Transformasi Digital dan AI Jadi Tantangan Industri Media di Solo Raya

  • 16 Sep 2026 16:31 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, dominasi platform digital dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI menjadi tantangan bagi keberlanjutan industri media. Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Koordinasi Penguatan Sinergi Kebijakan Media Massa BEJO'S di Hotel Alila Solo, Rabu, 16 September 2026.

Kegiatan yang digelar Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informasi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan tersebut diikuti media massa di Solo Raya, pemerintah kota dan kabupaten, serta akademisi. Forum membahas kebutuhan membangun media yang bertanggung jawab, edukatif, jujur, objektif dan memiliki industri yang sehat.

Kepala Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informasi Kemenko Polkam, Eko Dono Indarto mengatakan, industri media menghadapi perubahan besar akibat pergeseran cara masyarakat menemukan dan mengonsumsi informasi. Persaingan dengan media sosial serta penggunaan teknologi AI turut mengubah lanskap industri media.

Menurut Eko, perubahan tersebut juga berdampak terhadap model bisnis perusahaan pers. Pergeseran pendapatan iklan dan persaingan dengan platform digital menjadi tantangan yang perlu dihadapi agar perusahaan pers tetap dapat menjalankan kegiatan jurnalistik.

“Perubahan pola konsumsi informasi, dominasi platform digital, pergeseran pendapatan iklan, perubahan model bisnis dan juga kompetisi dengan media sosial. Hingga penggunaan teknologi AI telah mengubah lanskap industri media,” kata Eko.

Eko mengatakan, tekanan ekonomi telah membuat keberlanjutan sejumlah perusahaan media menjadi persoalan. Karena itu, menurutnya, pembahasan mengenai media yang bertanggung jawab dan berkualitas juga harus diikuti perhatian terhadap kesehatan industri pers.

Ia menilai, media membutuhkan dukungan ekosistem agar dapat mempertahankan profesionalisme dan kualitas jurnalistik di tengah perubahan teknologi. Menurutnya, kerja jurnalistik yang dilakukan melalui proses verifikasi dan standar kompetensi menghadapi persaingan dengan konten yang dapat diproduksi secara cepat menggunakan teknologi.

Direktur Ideologi, Kebangsaan, Politik, dan Demokrasi Kementerian PPN/Bappenas, Nuzula Anggeraini mengatakan, tantangan ekosistem pers tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Ketimpangan kapasitas antarwilayah, kesiapan perusahaan pers, sumber daya manusia dan tata kelola juga menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan.

Nuzula mengatakan, relasi pemerintah dan media juga membutuhkan mekanisme kerja sama yang transparan dan akuntabel. Namun, kerja sama tersebut tetap harus menjaga independensi editorial media.

Ia menjelaskan, kualitas jurnalistik juga menghadapi tantangan dalam proses verifikasi informasi dan kepatuhan terhadap kode etik. Perkembangan teknologi, termasuk konten sintetis dan AI, semakin menambah kompleksitas dalam ekosistem informasi.

“Kalau Bejo-nya ini kan sebenarnya sudah selalu diusahakan diterapkan oleh para anggota pers dan media. Tapi sehat industrinya ini memang yang kemudian menjadi tantangan,” ujar Nuzula.

Nuzula mengatakan, industri pers yang sehat diperlukan agar perusahaan media memiliki tata kelola yang baik dan pekerja media memperoleh perlindungan. Sumber pendapatan perusahaan pers juga diharapkan semakin beragam sehingga keberlanjutan usaha tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.

Menurutnya, kesehatan usaha dan independensi editorial perlu berjalan beriringan. Penguatan ekosistem pers melalui konsep BEJO'S tidak dimaksudkan sebagai instrumen pemerintah untuk mengatur ruang editorial media, melainkan membangun ekosistem bersama dengan seluruh pemangku kepentingan. (Ryan Assyidiqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....