Psikiater Ingatkan Keluarga Kenali Perubahan Perilaku Anak
- 16 Sep 2026 11:40 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Psikiater Mayjen TNI (Purn) dr. Agung Hermawanto mengingatkan pentingnya keluarga dan lingkungan mengenali perubahan perilaku seseorang sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental. Menurutnya, gangguan kejiwaan umumnya tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui sejumlah proses.
Hal tersebut disampaikan usai menjadi keynote speaker dalam kegiatan Youth Empowerment through Mental Resilience & Interpersonal Communication yang digelar Rotary Club Solo Area di Bale Tawang Praja, Balai Kota Surakarta, Selasa 15 September 2026.
Agung menjelaskan, gangguan psikiatri dapat dipengaruhi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor sosial antara lain berkaitan dengan keluarga dan lingkungan yang dapat memberikan dukungan maupun menjadi sumber tekanan bagi seseorang.
“Kalau faktor penyebab gangguan psikiatri itu adalah bio psikososial. Biologis, psikologis sama masalah sosial. Sosial itu lingkungan,” ujarnya.
Menurut Agung, kematangan kepribadian turut memengaruhi kemampuan seseorang dalam merespons tekanan. Sementara lingkungan yang tidak mendukung, seperti perundungan, dapat menjadi salah satu sumber tekanan sosial yang berdampak terhadap kondisi seseorang.
Agung mengatakan keluarga dan lingkungan perlu memperhatikan perubahan perilaku pada orang di sekitarnya. Penurunan aktivitas sehari-hari, gangguan tidur, maupun gangguan makan dapat menjadi tanda yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
“Gangguan jiwa itu jarang sekali mendadak. Ada proses. Jadi pentingnya sebetulnya keluarga atau lingkungan melihat perubahan-perubahan perilaku dari keluarganya atau temannya,” kata Agung.
Ia menyebut seseorang yang mengalami gangguan dan mulai menunjukkan kondisi yang mengganggu aktivitas maupun kehidupan sehari-hari dapat membutuhkan penanganan profesional. Dukungan sosial tetap penting, tetapi penggunaan media sosial maupun teknologi sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu.
Agung juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan atau AI oleh anak-anak dan remaja ketika menghadapi persoalan pribadi. Menurutnya, AI memang dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi jawaban yang diberikan perlu disikapi secara kritis karena sistem tersebut memberikan respons berdasarkan data.
“Perlunya menyikapi jawaban-jawaban AI ini dengan kematangan-kematangan intelektual kita, kepribadian kita dan sebagainya. Jadi tetap harus seperti itu,” ujar Agung.
| Baca juga: Weekend Produktif, Keluarga Tetap Nomor Satu |
Agung menambahkan, anak-anak yang menghadapi persoalan membutuhkan pendampingan dari keluarga maupun lingkungan sekolah. Peran guru, termasuk guru bimbingan dan konseling, juga diperlukan ketika anak mengalami masalah yang memengaruhi kondisi psikologisnya. (Reza)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....