Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana UMS, Tekankan Tanggungjawab Intelelektua

  • 12 Sep 2026 23:35 WIB
  •  Surakarta

RRI. CO. ID, Surakarta - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ menyelenggarakan Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana tahun akademik 2026/2027. Bertempat di Gedung Pascasarjana Lantai 5 UMS, pada Sabtu 12 September 2026.

Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya masa aktif akademik jenjang Program Magister dan Doktor UMS.

Sebanyak 403 mahasiswa baru Program Magister dan 109 mahasiswa baru Program Doktor UMS datang dari dalam maupun luar negeri. Kehadiran para mahasiswa baru pascasarjana UMS untuk mengenali layanan akademik UMS serta untuk mendapat arahan selama masa studi Program Magister dan Doktor kedepannya.

Prof. Dr. M. Farid Wajdi, S.E., M.M., Ph.D., selaku Direktur Direktorat Pascasarjana UMS menyambut kehadiran mahasiswa baru Pascasarjana. Ia bersyukur persentase pendaftar di Program Magister dan Doktor UMS selalu meningkat tiap tahunnya. Menurutnya, momen ini menjadi langkah awal menapaki jenjang studi yang lebih tinggi.

“Selamat datang di Pascasarjana UMS, rumahnya para cendekiawan intelektual bangsa. Tercatat mahasiswa baru yang bergabung di Program Magister dan Doktor lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Ini hari pertama bagi mahasiswa baru pascasarjana untuk menapaki perjalanan intelektual, terutama bagi mahasiswa Doktor yang ditekankan untuk dapat membagun pengetahuan dan memberi kontribusi bagi kemajuan peradaban,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwa dalam proses peningkatan jenjang studi, terdapat tanggung jawab intelektual yang akan melekat pada diri mahasiswa. Jenjang Pascasarjana, tidak sekedar menjadi loncatan untuk memperbanyak gelar, akan tetapi sebagai wadah memperdalam keintelektualan diri.

“Di jenjang pascasarjana Tidak sekedar mencari gelar, tapi bagaimana kita dapat mengetahui dan memahami sebuah fenomena realita yang terjadi,” ujarnya.

Farid menyebutkan bahwa arus perkembangan dunia semakin dinamis. Menurutnya, kompleksitas isu dalam perkembangan dunia saat ini menjadi tantangan bagi para akademisi untuk memberikan kontribusi solutif.

“Dinamika geopolitik, digitalisasi, dan ekonomi menjadi tantangan terbesar saat ini. Kita harus dapat merespon perkembangan tersebut dengan mengambil peran yang solutif,” tegasnya.

Ia juga menyatakan bahwa jajaran pimpinan Pascasarjana UMS siap menemani dan membantu proses perjalanan mahasiswa baru program Magister dan Doktor di UMS. Farid berharap para mahasiswa lebih masif berdialog dengan dosen, agar mendapat inovasi dan gagasan baru dalam menempuh masa Pascasarjana.

Menurut Farid UMS merupakan kampus yang menegaskan integrasi Iman, ilmu, dan amal. Orientasi Program Pascasarjana UMS ingin mencetak insan akademik yang memiliki integritas, kedalaman ilmu, critical thinking, dan berkarakter humanis dalam bermasyarakat.

“UMS menggabungkan dari iman, ilmu, dan amal. Ilmu untuk memberikan kompas arah, iman memberikan value seseorang, dan amal menjadi pengejawantahan integrasi iman dan ilmu sebagai bukti nyata kontribusi di masyarakat,” tambahnya.

Antusiasme peserta semakin meriah saat perwakilan mahasiswa asing diperkenankan memperkenalkan diri di hadapan mahasiswa baru pascasarjana. Tercatat mahasiswa asing beras dari Timor Leste, Thailand, Kamboja, hingga dari penghujung Pulau Afrika.

Sementara itu, Wakil Rektor I UMS bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Pengembagan Talenta-Inovasi, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., P.h.D., dalam pemaparan kuliah umum menjelaskan bahwa dalam Q.S. Ali-Imran ayat 110 menjelaskan bahwa kaum Muslim adalah umat terbaik yang diciptakan Allah. Pada ayat tersebut, menurut Ihwan UMS mengadopsi kandungan ayat tersebut dijadikan sebagai tagline besar UMS.

“Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi menjadi ciri khas arah gerak UMS,” tuturnya.

Menurutnya, arti humanisasi untuk mengaktualisasikan makna umat terbaik dalam pandangan Islam. Manusia tidak boleh saling merendahkan dan menjatuhkan dalam perihal apapun yang ada.

Makna Liberasi dijadikan sebagai bentuk pembebasan dari segala sesuatu yang tidak baik. Melalui edukasi atau pendidikan menjadi sarana untuk memberantas kebodohan yang ada di masyarakat.

Sedangkan transendensi, menurut Ihwan sebagai bentuk penghambaan manusia kepada Tuhannya. Tawakal kepada Allah menjadi titik tertinggi dalam proses mencapai sesuatu. karena Allah adalah pusat pemberi segala sesuatu kepada manusia.

Kemudian, Ihwan menegaskan bahwa perkembangan teknologi perlu dimanfaatkan oleh mahasiswa saat ini. Kecerdasan buatan (AI) menurutnya, akan memberikan manfaat banyak jika digunakan dengan bijaksana.

“AI akan membantu untuk meningkatkan kompetensi yang anda miliki, dalam artian, manusia tidak mengambil secara keseluruhan, tapi perlu adanya penyaringan dalam penggunaan AI,” pungkasnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan terdapat tiga pilar utama dalam transformasi di jenjang pascasarjana. Tiga pilar tersebut meliputi mutu, fleksibilitas, dan riset. Ia menegaskan bahwa UMS berkomitmen agar mutu kompetensi lulusan memiliki standar nasional maupun internasional. (Edwi/Rill)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....