Yayasan Gita Pertiwi Gelar Sekolah Lapang Regenerative Agriculture untuk Petani

  • 12 Sep 2026 15:57 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sukoharjo — Yayasan Gita Pertiwi menggelar Sekolah Lapang "Regenerative Agriculture" di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Direktur Utama Yayasan Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai wadah pelatihan khusus bagi petani milenial dan perempuan.

Dalam forum tersebut, para petani dibina untuk memproduksi bahan pangan berkualitas unggul dengan tetap mengoptimalkan potensi lokal secara berkelanjutan. "Sekolah lapang sendiri sebetulnya merupakan satu pelatihan ya, pelatihan untuk melatih bagaimana petani itu kami organisir," ujar Titik kepada awak media, Sabtu (12/9/2026).

Titik menegaskan bahwa sasaran dari program ini adalah melatih kemampuan manajerial petani, sehingga mereka dapat secara mandiri menganalisis ekosistem pertanian dan mengevaluasi dampak dari setiap metode yang digunakan. Menurut Titik, keputusan dalam mengelola lahan tidak boleh didasarkan pada instruksi pihak lain, melainkan harus bertumpu pada kesadaran petani itu sendiri.

"Makanya disebutnya analisa agroekosistem, bukan karena orang lain, bukan karena perintah, tetapi memang karena keputusan dia sendiri," ujarnya.

Salah satu fokus utama dalam Sekolah Lapang ini adalah pengembangan metode regenerative agriculture (pertanian regeneratif), sebuah metode inovatif yang bertujuan memulihkan kesuburan tanah dengan meminimalisir ketergantungan pada bahan kimia sintetis. Titik mengungkapkan bahwa kondisi kesuburan tanah di wilayah Sukoharjo saat ini telah mengalami degradasi dan berada di bawah standar ideal, sehingga metode ini menjadi sangat krusial.

"Ini menjadi satu hal yang harus diperbaiki bersama-sama, karena untuk menghasilkan produk yang tinggi, produk yang banyak, produk yang berkualitas, tentunya medianya ini yang harus kita perbaiki dulu," ucapnya lebih lanjut.

Penerapan budidaya bawang merah dengan metode regenerative agriculture pun telah membuahkan hasil yang memuaskan. Titik memaparkan bahwa metode ini terbukti mampu menghemat biaya produksi, sekaligus meningkatkan kualitas fisik bawang merah.

"Hasilnya ternyata lebih bagus yang regenerative agriculture, kemudian dari sisi harga selisihnya seribu rupiah per kilo," ujar Titik.

Selain itu, tingkat penyusutan bawang merah dari fase basah ke kering juga terbukti jauh lebih efisien, yaitu hanya sekitar 20 persen, berbanding terbalik dengan metode konvensional yang angka penyusutannya dapat mencapai lebih dari 30 persen. (Ase)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....