Estafet Tunas Kelapa, Dari Tradisi Pramuka menuju Penguatan Karakter
- 02 Sep 2026 11:48 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Gerakan Pramuka tidak hanya identik dengan kegiatan baris-berbaris dan berkemah. Melalui kegiatan Estafet Tunas Kelapa atau ETK nilai-nilai patriotisme, nasionalisme, disiplin, tanggung jawab, serta cinta tanah air terus ditanamkan kepada generasi muda.
Di Kabupaten Klaten, Estafet Tunas Kelapa menjadi salah satu kegiatan yang melibatkan anggota Pramuka, pemerintah, masyarakat, hingga peserta didik di sepanjang rute yang dilalui. Kegiatan tersebut membawa tunas kelapa, bendera Merah Putih dan bendera Pramuka serta menjadi simbol estafet semangat kepahlawanan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Wakil Ketua Pembinaan Anggota Dewasa atau Binawasa Kwartir Cabang Klaten, Zainal Abidin, mengatakan kegiatan Estafet Tunas Kelapa terinspirasi dari perjuangan Jenderal Soedirman saat melakukan gerilya melawan penjajah. Karena itu kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kembali nilai patriotisme pada generasi muda.
“Estafet Tunas Kelapa itu tindak lanjut dari Gerak Jalan Tunas Kelapa yang terinspirasi dari Pahlawan Jenderal Soedirman saat perjuangan melawan penjajah dengan gerilya. Jadi nilai patriotismenya akan tumbuh di generasi-generasi kita sekarang.”ujar Zainal Abidin saat dialog interaktif di RRI Selasa 1 September 2026.
Sementara itu Wakil Ketua Bidang Humas dan Informatika Kwarcab Klaten, Puspo Enggar Hastuti, menjelaskan kegiatan Estafet Tunas Kelapa memiliki sejarah panjang. Kegiatan ini pertama kali dicetuskan pada Februari 1967 dengan nama Gerak Jalan Tunas Kelapa. Saat itu kegiatan dilaksanakan secara non-stop, siang hingga malam.
Kemudian pada 9 hingga 13 Agustus 1970 kegiatan tersebut secara resmi menjadi kegiatan Kwartir Daerah Jawa Tengah dan namanya berubah menjadi Estafet Tunas Kelapa. Setelah sempat berhenti kegiatan kembali dilaksanakan pada 1979 dan hingga kini menjadi tradisi sekaligus ciri khas kepramukaan di Jawa Tengah.
Untuk pelaksanaan di Klaten Estafet Tunas Kelapa menempuh rute sekitar 21 koma 5 kilometer dari Sanggar Bakti Nasional hingga perbatasan Boyolali. Tunas kelapa diterima dari Kwartir Cabang Sukoharjo kemudian dilanjutkan melalui sejumlah etape di wilayah Klaten sebelum akhirnya diserahkan menuju Boyolali.
Di sepanjang perjalanan kegiatan tidak hanya diisi dengan estafet tunas kelapa. Sejumlah kegiatan pendukung disiapkan mulai dari penyambutan oleh sekolah dan masyarakat, iring-iringan organisasi perangkat daerah, penampilan seni tradisional, drum band hingga penyediaan air minum dan makanan bagi peserta.
Kegiatan juga menjadi momentum untuk mengedukasi anggota Pramuka mengenai kepedulian lingkungan. Sebelumnya Kwarcab Klaten telah melakukan penanaman pohon di sejumlah titik serta aksi pencabutan paku yang menancap pada pepohonan akibat pemasangan reklame.
Pelaksana lapangan Estafet Tunas Kelapa Klaten, Ilham Raup Pamuji, menegaskan kegiatan ini tidak berhenti pada perjalanan membawa tunas kelapa. Ada nilai yang ingin ditanamkan yakni semangat nasionalisme dan cinta tanah air persaudaraan antaranggota Pramuka kepedulian social, serta sinergi antara Pramuka, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
“Pramuka itu bukan hanya baris-berbaris atau berkemah, tetapi bisa hadir, bergerak dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.”ujar Ilham Raup Pamuji ketika narasumber dialog di RRI Selasa 1 September 2026.
Sementara Zainal Abidin berharap semangat kepahlawanan yang menjadi inspirasi Estafet Tunas Kelapa juga dapat diwariskan kepada generasi muda. Dengan demikian tunas kelapa bukan sekadar simbol yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain tetapi juga menjadi simbol estafet nilai patriotisme dan cinta bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....