OJK Solo Gelar Puncak Bulan Literasi Keuangan dan HIM di SRT Sukoharjo
- 31 Agt 2026 21:40 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Sukoharjo - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo menggelar kegiatan Puncak Bulan Literasi Keuangan dan Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sukoharjo, Senin 31 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dalam upaya edukasi guna meningkatkan literasi keuangan terhadap segmen pelajar yang dinilai masih rendah.
Selain Kepala OJK Solo Muhamad Mufid, juga hadir Plt Bupati Eko Sapto Purnomo, pimpinan Bank Jateng Surakarta dan Sukoharjo, serta beberepa pejabat dan Kepala OPD di lingkungan pemkab Sukoharjo, serta ratusan siswa mulai dari jenjang SD hingga SMA.
Kepala OJK Solo, Muhammad Mufid, mengatakan berdasarkan hasil survei nasional literasi dan inklusi keuangan, tingkat literasi keuangan segmen pelajar tercatat sekitar 62,72 persen dan tingkat inklusi keuangan segmen pelajar sekitar 92 persen.

“Angka tersebut di bawah tingkat literasi keuangan dan inklusi masyarakat Indonesia secara nasional, yakni 69,57 persen dan 93,61 persen,” ujar dia.
Menurutnya, rendahnya tingkat literasi keuangan segmen pelajar menjadi pekerjaan rumah dan tantangan pada masa mendatang.
“Dibutuhkan kolaborasi dan sinergitas antara OJK dengan pemangku wilayah untuk menggenjot tingkat literasi keuangan segmen pelajar,” katanya.
Kepala OJK Solo Muhamad Mufid juga menambahan salah satu upaya untuk meningkatkan literasi keuangan segmen pelajar dengan program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar).
“Program tersebut merupakan inisiatif OJK dan pemerintah untuk mendorong setiap pelajar di Tanah Air memiliki rekening tabungan sendiri,” pungkas dia.
Sementara itu, Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo juga berupaya menguatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya generasi muda.
“Literasi keuangan sangat penting, sehingga masyarakat ketika dihadapkan pada pilihan finansial, terutama akses digital finansial, mereka punya informasi dan pengetahuan yang cukup. Sehingga bisa mengambil pilihan dengan bijak dan tepat,” ujarnya.

Eko Sapto menilai edukasi keuangan perlu dimulai sejak usia sekolah. Sebab, perkembangan teknologi membuat anak-anak dan generasi muda semakin dekat dengan berbagai layanan dan transaksi keuangan digital.
“Istilah saya, kalau salah pilih obat bisa sakit, tapi kalau salah pilih pilihan terhadap akses finansial, terutama finansial digital yang hari ini luar biasa, bisa jatuh ke kemiskinan juga,” tegasnya.
Karena itu, menurutnya, sosialisasi literasi keuangan yang dimulai dari jenjang sekolah dasar merupakan langkah yang tepat.
Harapannya, para pelajar tidak hanya terbiasa menabung, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola uang dan memahami risiko dalam menggunakan layanan keuangan.
“Kita mulai sejak dini, sejak anak-anak sekolah. Maka pilihan untuk melakukan sosialisasi mulai dari tingkat sekolah dasar ini saya kira bagus sekali,” katanya. (Edwi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....