Cerita 53 Tahun Mbah Lamiyem, Setia Merawat Napas Ekonomi Grojogan Sewu
- 28 Agt 2026 23:53 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Karanganyar - Gemericik air terjun dan sejuknya udara kawasan wisata Grojogan Sewu di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, telah menjadi teman setia Mbah Lamiyem selama lebih dari lima dekade. Perempuan kelahiran tahun 1957 asal Beji, Tawangmangu ini, telah berdiri di balik warung sederhananya sejak tahun 1973, menjadi saksi bisu pasang surut pariwisata lereng Gunung Lawu.
Warung kecil yang dibangun di atas tanah desa tersebut menjadi tumpuan hidup utama Mbah Lamiyem. Dari tempat inilah ia membesarkan empat orang anak hingga mandiri, yang kini telah memberinya sepuluh cucu dan lima orang cicit.
"Kula niku warung mriki niku mpun kawit tahun 73 kok (Saya sudah diwarung ini sejak tahun 73,-red). Wong kula niku anak kula nembe kalih, sakniki kula mpun putu 10, buyut lima (Waktu itu anak saya baru dua, sekarang sudah cucu 10, cicit 2,-red)," kata Mbah Lamiyem saat ditemui RRI di warung kawasan Grojogan Sewu beberapa waktu lalu.
Ingatan Mbah Lamiyem masih sangat segar ketika mengenang masa-masa kejayaan Grojogan Sewu puluhan tahun silam. Dahulu, terutama saat momen libur Lebaran, kawasan ini selalu dipadati ribuan wisatawan. Tingginya permintaan membuat Mbah Lamiyem bahkan tak sempat beristirahat atau sekadar makan karena sibuk melayani pembeli.
"Lha nek riyen ngoten wah, kula niku nek ajeng maem mboten isa (waktu jaman dulu ramai, sampai makan saja tidak bisa,-red). Masak nasi niku esuk jam setengah enam mpun masak nasi lima kilo, setengah setunggal mpun masak malih (masak nasik itu jam setengah 6 sudah masak 5 kilo, terus jam 1 sudah masak lagi,-red)," kenangnya.
Namun, kondisi pariwisata berubah drastis pasca pandemi Covid-19. Dalam dua tahun terakhir, tingkat kunjungan harian merosot tajam. Faktor harga tiket masuk yang mencapai 27.000 pada hari biasa dan 29.500 pada akhir pekan, ditambah pergeseran tren kunjungan wisatawan, membuat banyak rombongan beralih ke destinasi lain.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada deretan kios pedagang di sepanjang jalur utama menuju air terjun. Dari ratusan kios yang ada, kini hanya segelintir pedagang yang bertahan buka pada hari biasa, sementara mayoritas kios lainnya memilih tutup rapat.
"Sakniki dua kilo beras mpun mboten entek setinten (sekarang, masak beras 2 kilo saja tidak habis,-red). Minuman ngoten niku riyen mborong tiga juta setengah, sakniki setunggal juta mpun mboten entek (dulu minuman di borong bisa sampai 3,5 juta, sekarang aja 1 juta tidak habis,-red)," ujar Mbah Lamiyem.
Meski pendapatan harian kini jauh dari kata melimpah dan lingkungan kios kerap diselimuti kesunyian, Mbah Lamiyem tetap setia melangkahkan kaki dari rumahnya di Beji setiap hari. Bagi Mbah Lamiyem, membuka warung bukan lagi sekadar urusan mencari lembaran rupiah, melainkan wujud pengabdian pada tempat yang telah menghidupi keluarganya selama 53 tahun.
Ia menaruh harapan besar agar pengelola pariwisata dan pihak terkait dapat melahirkan inovasi-inovasi baru yang mampu menggeliatkan kembali pariwisata Grojogan Sewu seperti sediakala.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....