Orang Tua Diimbau Perkuat Fondasi Religius Generasi Alpha di Era AI
- 21 Agt 2026 22:13 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Perkembangan teknologi digital yang kian pesat menuntut peran aktif para orang tua dalam mendidik Generasi Alpha, yakni anak-anak yang lahir pada kurun 2010 hingga 2024, Jumat 21 Agustus 2026.
Penanaman fondasi keimanan, ilmu pengetahuan, serta adab menjadi kunci utama agar anak tidak terjebak dalam dampak negatif media sosial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Hal tersebut disampaikan oleh Khatib dan Imam Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, dalam naskah khutbah bertajuk Mendidik Generasi Alpha di Era Media Sosial dan Kecerdasan Buatan di Lapangan SD Muhammadiyah 1 Solo.
Dia menekankan pentingnya penguatan akidah sejak dini di tengah maraknya penggunaan internet dan perangkat pintar oleh anak-anak.
Menurut guru Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab kelas 3, Generasi Alpha tumbuh bersama teknologi yang membawa peluang besar untuk belajar sekaligus risiko, seperti penyebaran berita bohong hingga konten tidak pantas.
Kehadiran AI memang mempermudah pekerjaan, namun berpotensi disalahgunakan untuk mencontek maupun membuat malas berpikir jika tidak disikapi secara bijak.
"Kehangatan keluarga tidak bisa digantikan oleh secanggih apa pun teknologi. Anak-anak lebih membutuhkan kehadiran orang tua daripada sekadar fasilitas yang lengkap,” ujarnya.
Kurangnya perhatian orang tua dinilai sangat berisiko membuat anak merasa terasing dan mencari pelampiasan kepada entitas digital.
Ia turut menyoroti kasus tragis seorang anak yang nekat bunuh diri (bundir) setelah mendapatkan saran dari mesin AI akibat minimnya kedekatan dengan keluarga di rumah.
Untuk membentengi anak dari ancaman tersebut, ada tiga fondasi utama yang wajib ditanamkan.
Pertama, memperkuat keimanan agar tumbuh kesadaran bahwa seluruh aktivitas digital senantiasa diawasi Allah Swt.
Kedua, membekali ilmu pengetahuan agar anak mampu berpikir kritis serta memilah informasi.
Ketiga, menanamkan adab dan etika kesantunan dalam berkomunikasi di ruang digital.
Dia juga meminta orang tua tidak menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Masyarakat diajak menjadikan rumah sebagai tempat bertumbuhnya iman agar lahir generasi unggul berakhlak mulia.
Rumah harus tetap menjadi madrasah pertama bagi anak-anak.
“Media sosial dan kecerdasan buatan hanyalah alat. Keduanya dapat menjadi sarana kebaikan atau pintu kerusakan, bergantung pada cara manusia menggunakannya,” tegas anggota Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Solo itu. (Edwi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....