Film Istimewa Angkat Kisah Nyata Enam Anak Penyandang Disabilitas
- 15 Agt 2026 21:54 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Film Istimewa mengangkat kisah nyata enam anak penyandang disabilitas yang dibina Yayasan Rumah Istimewa. Film tersebut menjadi bentuk perjuangan untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mampu berkarya dan tidak seharusnya mendapat perlakuan merendahkan.
Produser Film Istimewa, Abdullah Mansuri mengatakan gagasan film berawal dari keprihatinan terhadap perundungan dan konten yang menghina penyandang disabilitas. Perjuangan selama lima tahun di Rumah Istimewa kemudian diwujudkan melalui film tersebut.
"Ini sebenarnya kekecewaan atas apa yang terjadi selama ini banyak bully-an, banyak konten-konten yang menghina anak-anak disabilitas di negeri ini. Akhirnya perjuangan lima tahun kami di Rumah Istimewa ini kami wujudkan dalam satu film," katanya usai special screening film Istimewa di XXI Solo Paragon, Surakarta, Kamis 13 Agustus 2026.
Abdullah mengatakan enam anak dari Rumah Istimewa dipilih menjadi pemeran utama setelah melalui proses persiapan yang cukup panjang. Pemilihan pemeran dilakukan dengan mempertimbangkan kisah kehidupan masing-masing anak.
"Dan mereka semua anak-anak kami yang membuktikan bahwa mereka bisa tidak hanya dicaci, dibully, dimaki, bahkan tidak diakui sama orang tuanya. Tapi dalam film ini enam anak istimewa kami yang saya sentuh, saya besarkan, saya didik sehingga sekarang menjadi sesuatu," ujarnya.
Menurut Abdullah, proses persiapan film berlangsung selama dua tahun, termasuk menentukan pemeran yang sesuai dengan cerita. Setelah itu, produksi dipersiapkan selama tiga bulan dengan dua bulan di antaranya digunakan untuk coaching sebelum pengambilan gambar.
"Ini adalah karya yang pertama di PH Kairos dan kami membutuhkan waktu dua tahun untuk mempersiapkan ini, meyakinkan caster mana yang kami ambil karena jumlahnya cukup besar anak disabilitas yang ada di Rumah Istimewa," ucapnya.
Abdullah mengatakan cerita film bersumber dari kisah nyata para pemeran utama. Cerita tersebut menggambarkan perjalanan mereka sejak mengalami keterpurukan hingga mampu berkembang dan menunjukkan kemampuan masing-masing.
"Perbedaannya dari kisah nyata yang pertama. Yang kedua dari awal sampai akhir cerita mereka. Enggak ada cerita orang lain. Cerita mereka dengan ayahnya," katanya.
Ia menyebut proses pemilihan enam pemeran utama tidak mudah karena banyak anak yang berada di Rumah Istimewa memiliki cerita masing-masing. Salah satu pertimbangannya adalah pengalaman hidup mereka yang kemudian menjadi bagian dari karakter dalam film.
Saat ini, Abdullah menyebut Yayasan Rumah Istimewa menaungi hampir 5.000 anak yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ia berharap kehadiran film Istimewa dapat mendorong masyarakat menghargai penyandang disabilitas dan tidak lagi melakukan tindakan yang menyakiti mereka.
Abdullah berharap film Istimewa dapat menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas mampu berkarya ketika mendapatkan ruang dan kesempatan. Kisah enam pemeran utama diharapkan dapat memberikan inspirasi sekaligus mengubah pandangan masyarakat terhadap kemampuan penyandang disabilitas. (Reza)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....