Bule Sampah Dorong Surakarta Perkuat Ekonomi Sirkular, Pilah Sampah Rumah Tangga
- 06 Agt 2026 19:22 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Pegiat lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter atau yang dikenal sebagai Bule Sampah, mendorong masyarakat Kota Surakarta membangun budaya memilah sampah dari rumah tangga sebagai langkah memperkuat ekonomi sirkular sekaligus mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam sosialisasi pemilahan sampah dan praktik pengolahan sampah organik menggunakan eco enzyme yang digelar Pemerintah Kota Surakarta bersama Tim Penggerak PKK Kota Surakarta di Pendopo Manahan.
Benedict mengatakan, pengelolaan sampah tidak cukup dilakukan melalui kegiatan sosialisasi semata, tetapi harus dibarengi dengan pendidikan yang berkelanjutan kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari sekolah hingga lingkungan permukiman.
"Kami tidak hanya melakukan sosialisasi kepada ibu-ibu PKK dan RT-RW, tetapi juga mulai dari sekolah. Kami memiliki kurikulum, metode, dan konsep untuk berbagai kelompok masyarakat. Bersama Kota Surakarta kami sedang mencari solusi, dan kami berharap tahun depan sudah terlihat perubahan," kata Benedict, Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurutnya, salah satu persoalan utama di Kota Surakarta masih banyaknya sampah yang berakhir di sungai maupun TPA. Oleh karena itu, pengurangan sampah dari rumah menjadi langkah paling efektif untuk menekan timbulan sampah.
"Prioritasnya adalah mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Setiap rumah harus mulai mengurangi sampah, memilah sampah, dan mengumpulkannya agar bisa mendukung ekonomi sirkular. Banyak perusahaan yang siap mendaur ulang sampah, tetapi mereka masih kekurangan bahan baku karena sampah belum dipilah dengan baik," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menegaskan Pemerintah Kota Surakarta akan terus memperkuat edukasi kepada masyarakat melalui kader PKK agar perubahan perilaku dalam mengelola sampah dapat dimulai dari tingkat rumah tangga.
Menurutnya, keberhasilan penanganan persoalan sampah sangat bergantung pada meningkatnya kesadaran masyarakat, bukan hanya pada pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah.
"Kita harus mulai dari hulu dengan membangun awareness atau kesadaran masyarakat terkait pentingnya mengelola sampah dari rumah. Pengetahuan yang berwawasan lingkungan harus terus kita sosialisasikan secara rutin agar masyarakat bisa mengubah mindset dan pola kebiasaannya. Mulainya dari hal sederhana, seperti berbelanja secukupnya, mengambil makanan secukupnya lalu dihabiskan, baru kemudian kita berbicara tentang pemilahan dan pengolahan sampah," kata Respati.
Respati berharap edukasi yang diberikan kepada kader PKK dapat diteruskan hingga tingkat RT dan RW, sehingga budaya memilah sampah dan mengolah sampah organik menjadi kebiasaan masyarakat. Dengan demikian, volume sampah yang dibuang ke TPA dapat terus ditekan sekaligus mendukung terwujudnya sistem ekonomi sirkular di Kota Surakarta. (Ryan Assyidiqi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....