Remaja Jadi Sasaran Utama Jaringan Narkoba

  • 06 Agt 2026 23:07 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Peredaran narkoba di Kabupaten Sragen semakin mengkhawatirkan karena menyasar kalangan remaja dan pemuda usia produktif. Kondisi ini menjadi perhatian aparat kepolisian dan organisasi kepemudaan, mengingat generasi muda merupakan aset pembangunan yang rentan dipengaruhi jaringan pengedar.

Kasat Reserse Narkoba Polres Sragen, AKP Mohammad Luqman Effendi, mengungkapkan berdasarkan penanganan kasus yang dilakukan, kelompok usia paling rentan terjerumus penyalahgunaan narkoba berada pada rentang 24 hingga 38 tahun. Mereka dipilih karena masih berada pada usia produktif, aktif bergaul, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Selain itu, kondisi psikologis yang masih labil membuat sebagian remaja mudah terpengaruh ajakan teman untuk mencoba narkoba.

“Jadi kelompok usia yang paling rentan ini antara 20 sampai umur 38 tahun ini adalah usia-usia yang masih produktif.

AKP Luqman menjelaskan, pola perekrutan kini tidak selalu dilakukan secara terang-terangan. Banyak kasus berawal dari lingkungan pergaulan, seperti ajakan mencoba pil atau minuman yang diklaim mampu menambah stamina setelah berolahraga atau berkumpul bersama teman. Dari rasa penasaran itulah korban kemudian mengalami ketergantungan hingga akhirnya masuk ke dalam jaringan penyalahgunaan narkoba.

“Pemikiran yang masih labil. Jadi ini mudah dipengaruhi oleh teman di lingkungan. Jadi kadang-kadang peredaran di lingkungan remaja ini ini hanya guyon setelah olahraga temannya ngasih minum. Padahal dia enggak tahu dikasih obat berbahaya. Dan setelah minum ternyata badannya segar, “ ujar AKP Luqman saat dialog interaktif di RRI Kamis 6 Agustus 2026.

Sementara itu, Ketua GP Ansor Kabupaten Sragen sekaligus Sekretaris KNPI Sragen, Robby Isnan Abdillah, menilai pencegahan harus dimulai sejak usia sekolah. Menurutnya, anak-anak SMA hingga pemuda berusia 20 sampai 35 tahun merupakan kelompok yang paling rentan menjadi sasaran jaringan narkoba. Karena itu, organisasi kepemudaan hadir untuk mengajak generasi muda mengikuti kegiatan yang produktif, edukatif, dan membangun karakter sehingga tidak mudah terpengaruh ajakan negatif.

Robby menambahkan, faktor keluarga menjadi penyebab yang paling sering ditemui ketika seorang remaja terjerumus narkoba. Kurangnya pengawasan orang tua, lingkungan pergaulan yang tidak sehat, serta minimnya aktivitas positif membuat anak muda lebih mudah dipengaruhi. Sebaliknya, keterlibatan dalam organisasi, pelatihan kepemimpinan, olahraga, kegiatan sosial, hingga kewirausahaan dapat menjadi ruang yang positif untuk mengembangkan potensi generasi muda.

“ Untuk pengalaman yang ada di lapangan yang sering membuat pemuda ini terjerumus di narkoba ini yang salah satunya adalah dari keluarga yang paling sering dari keluarga. Juga lingkungan yang kurang mendukung. Dalam artian mendukung ini tidak ada aktivitas positif, adanya cuma kongko, nongkrong di warung kopi setiap hari, nongkrong di perempatan, nongkrong di kafe-kafe tanpa adanya edukasi atau aktivitas yang positif lainnya, “ujar Robby

Polres Sragen bersama GP Ansor juga terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, Karang Taruna, serta masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi hingga tingkat desa. Seluruh elemen masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengawasi lingkungan sekitar, membangun komunikasi yang baik dengan anak, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi penyalahgunaan narkoba. Upaya bersama tersebut dinilai menjadi kunci untuk melindungi generasi muda Sragen dari ancaman narkoba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....