POT Jadi Inovasi Baru PPS Raharjo Sragen Dorong Keterlibatan Orang Tua
- 31 Jul 2026 14:15 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Panti Pelayanan Sosial (PPS) Raharjo Sragen menghadirkan inovasi baru berupa Persatuan Orang Tua (POT) sebagai upaya meningkatkan keterlibatan keluarga dalam proses rehabilitasi penyandang disabilitas intelektual. Program ini dirancang menjadi wadah komunikasi, edukasi, dan kolaborasi antara pihak panti, orang tua, serta berbagai pemangku kepentingan agar rehabilitasi tidak berhenti ketika penerima manfaat kembali ke lingkungan keluarga.
Kepala PPS Raharjo Sragen, Sito Resmi saat menjadi narasumber Obrolan Asta Cita Pro 4 RRI Surakarta Kamis, 30 Juli 2026 mengatakan POT dibentuk sebagai forum komunikasi yang mempertemukan pihak panti dengan keluarga penerima manfaat. POT bertujuan sebagai wadah komunikasi antara keluarga dan pihak panti untuk meningkatkan pelayanan terhadap penerima manfaat disabilitas intelektual,
Menurutnya, pembentukan POT dilatarbelakangi rendahnya keterlibatan keluarga selama anak menjalani rehabilitasi di panti. Banyak penerima manfaat yang bertahun-tahun tidak pernah dikunjungi oleh keluarganya sehingga memengaruhi kondisi psikologis maupun keberhasilan pembinaan.
"Fenomena ini membuat saya berpikir bagaimana caranya meningkatkan partisipasi orang tua agar mereka mau ikut peduli dengan anak-anak yang mereka titipkan di panti," katanya.
Data PPS Raharjo Sragen menunjukkan hanya sekitar 35 persen penerima manfaat yang masih dikunjungi keluarga, sedangkan sebagian besar lainnya tidak pernah dijenguk. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan ekonomi hingga minimnya kepedulian keluarga terhadap penyandang disabilitas intelektual.
Sebagai solusi, PPS Raharjo Sragen menggagas inovasi SI PORTAL PANTI (Sinergi Stakeholder dan Orang Tua melalui Persatuan Orang Tua) yang mengedepankan kolaborasi antara keluarga, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Melalui POT, orang tua akan memperoleh edukasi mengenai pola pengasuhan, pendampingan, hingga pelatihan untuk mendukung kemandirian anak setelah kembali ke rumah.
Program kerja POT meliputi bidang peningkatan kapasitas orang tua (capacity building), dukungan psikososial (support system), kemitraan dan advokasi, hingga penguatan sistem komunikasi melalui pemanfaatan WhatsApp Group dan koordinasi dengan Dinas Sosial serta TKSK.
Sito menegaskan keberhasilan rehabilitasi tidak cukup hanya mengandalkan peran panti. Menurutnya, keluarga memegang peran utama dalam mempertahankan kemampuan yang telah diperoleh anak selama menjalani rehabilitasi.
"Panti tidak bisa bekerja sendiri. Kami menghimbau semua pihak untuk saling mendukung dan berkolaborasi agar tujuan mewujudkan penyandang disabilitas intelektual yang mandiri dan mampu menjalankan fungsi sosialnya di masyarakat dapat tercapai," kata dia.
Ia berharap kehadiran POT mampu meningkatkan kepedulian keluarga terhadap penerima manfaat, memperkuat komunikasi dengan pihak panti, serta memastikan proses rehabilitasi terus berlanjut setelah anak kembali ke lingkungan masyarakat. (Nuri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....