Peran Aktif Perempuan Surakarta Menjaga Lingkungan lewat Pilah Sampah
- 17 Jun 2026 18:16 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Pemerintah Kota Surakarta terus mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan kebersihan kota, di mana kaum perempuan kini menjadi pilar utama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Gerakan peduli lingkungan berbasis komunitas ini dinilai efektif menekan volume pembuangan limbah domestik secara masif langsung dari hulu.
Direktur Bank Sampah Induk Kerja Nyata Surakarta, Denok Marty Astuti, mengatakan keterlibatan aktif kelompok perempuan, terutama melalui jaringan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Posyandu, terbukti mendominasi aksi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.
Sebagai pengelola harian domestik, perempuan memiliki kedekatan emosional dan praktis yang tinggi terhadap produksi limbah harian, baik organik maupun anorganik. Ia juga menegaskan posisi penting kaum ibu dalam ekosistem kebersihan ini.
"Sepanjang pergerakan saya lebih dari 10 tahun, wanita itu sebagai ujung tombak gitu karena kan yang biasa dekat sebenarnya bukan berarti pria tidak punya sampah ya, tapi yang dekat dengan penghasil sampah itu kan wanita kayak masak gitu-gitu ya." ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Kendati demikian, gerakan pemilahan ini masih menghadapi tantangan berat berupa keterbatasan pengetahuan teknis masyarakat serta persepsi yang belum seragam mengenai tata cara mengelola limbah.
Pengurus bank sampah dituntut bekerja ekstra keras menyamakan bahasa edukasi agar warga tidak merasa kecewa ketika hasil pilahan mereka bercampur kembali saat pengangkutan.
Sebagai solusi jangka panjang, program edukasi kini mulai digeser menyasar anak-anak usia dini di sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi demi membangun budaya bersih yang berkelanjutan.
Kebiasaan baik yang diajarkan sejak dini terbukti mampu membawa pengaruh positif ke dalam rumah tangga karena anak-anak secara aktif mengingatkan orang tua mereka.
Mengenai harapan besar terhadap keberlanjutan aksi penyelamatan lingkungan ini, Denok berharap agar seluruh lapisan masyarakat dapat saling bersinergi dan mengubah paradigma pengelolaan sampah menjadi bernilai ekonomis.
"Harapan kedepannya sih semua orang bergerak tidak hanya wanita tetapi juga kalau kaum pria, anak-anak dan orang muda sampai yang sepuh pun bergerak sehingga kalau yang saat ini sampah itu jadi PR ke depan harapannya sampah itu enggak jadi PR tapi jadi RP." katanya.
Melalui pemanfaatan kearifan lokal yang kuat serta dukungan regulasi yang matang, Kota Surakarta optimistis mampu mereduksi penumpukan residu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Sinergi hulu ke hilir ini diharapkan dapat menuntaskan persoalan lingkungan secara mandiri tanpa menyisakan dampak buruk bagi generasi penerus di masa mendatang. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....