Fenomena "Bladu" Kembali Muncul di Bengawan Solo, Warga Panen Ikan

  • 30 Mei 2026 16:16 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Fenomena "bladu" kembali terjadi di aliran Bengawan Solo yang melintasi wilayah Pucangsawit dan Sewu, Sabtu 30 Mei 2026. Akibat fenomena tersebut, sejumlah ikan terlihat lemas dan berenang ke tepian sungai sehingga menjadi perhatian warga setempat.

Dihubungi rri.co.id, Lurah Pucangsawit, Iwan Murtanto, mengatakan fenomena bladu bukan kejadian baru bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Bengawan Solo. Menurutnya, kondisi tersebut kerap muncul setelah hujan deras turun usai beberapa hari cuaca kering.

“Kalau bladu itu sering. Biasanya kalau awal-awal musim hujan atau setelah beberapa hari tidak hujan lalu turun hujan deras,” katanya.

Ia menjelaskan bladu terjadi ketika dasar sungai teraduk akibat perubahan arus setelah hujan. Kondisi tersebut menyebabkan kandungan oksigen di dalam air berkurang sehingga ikan naik ke permukaan dalam keadaan lemas atau seperti mabuk.

“Kalau bladu itu mabuk, tapi tidak mati. Nanti kalau kondisi air sudah normal, ikannya sehat lagi,” ujarnya.

Iwan menambahkan fenomena tersebut umumnya hanya berlangsung singkat sehingga warga yang mengetahui kejadian itu biasanya langsung mendatangi sungai untuk menangkap ikan. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan ikan mabuk juga dapat disebabkan faktor lain seperti limbah atau bahan kimia yang perlu dibuktikan melalui uji laboratorium.

Sementara itu, warga Sewu, Tri Maryono, mengatakan fenomena tersebut mulai diketahui sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu banyak ikan bergerak ke tepian sungai dalam kondisi tidak normal.

Menurutnya, kejadian tersebut langsung mengundang perhatian warga sekitar. Banyak warga datang membawa jala untuk menangkap ikan yang muncul ke permukaan.

“Banyak warga yang mencari tadi. Hampir semua orang dapat,” ucapnya.

Tri menyebut ikan yang muncul terdiri atas berbagai jenis seperti patin, nila, bader, hingga ikan sungai berukuran besar lainnya. Sebagian ikan juga ditemukan di area kedung atau bagian sungai yang lebih dalam.

“Ada yang besar-besar, kayak ikan patin, nila, bader itu banyak,” katanya.

Ia mengaku tidak melihat tanda-tanda pencemaran saat fenomena terjadi karena air Bengawan Solo tampak normal dengan warna kehijauan dan tidak menimbulkan bau menyengat. Menurut Tri, warga setempat lebih mengenal peristiwa tersebut sebagai "iwak sumuk" atau ikan mabuk akibat perubahan cuaca yang diduga dipicu peralihan suhu dari panas ke dingin. (Reza)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....