Keraton Surakarta Gelar Grebeg Besar Iduladha, Begini Maknanya
- 27 Mei 2026 18:10 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Keraton Surakarta Hadiningrat Kubu PB XIV Purbaya menggelar tradisi adat Grebeg Besar Iduladha di Masjid Agung pada Rabu, 27 Mei 2026. Dalam tradisi Grebeg Besar ini, Keraton Surakarta membawa dua gunungan yakni gunungan Jaler dan Estri.
Dari pantauan RRI.CO.ID, iring-iringan mulai masuk Masjid Agung sekira pukul 10.30 WIB yang diawali prajurit Keraton, abdi dalem, gunungan dan gamelan. Sebelum masuk area masjid, iring-iringan keluar dari Keraton Surakarta melewati Kori Kamandungan, Sitihinggil, Pagelaran, Alun-Alun Utara dan berbelok kiri masuk Masjid Agung.
Kedatangan iring-iringan langsung diterima Penghulu Tafsir Anom, Muhtarom dan kemudian dilanjutkan pembacaan doa. Setelah pembacaan doa, gunungan Jaler yang dibawa abdi dalem langsung diserbu masyarakat hingga habis hanya dalam waktu lima menit.
Ditemui di lokasi, salah satu warga Purwaningsih yang berhasil mendapatkan kacang, cabe merah dan tebu ini merasa sangat senang. Dirinya mengaku akan mempergunakan hasil rebutannya untuk dikonsumsi.
"Nanti dimakan, sudah pernah ikut juga sebelumnya," kata Purwaningsih.
Selain Purwaningsih, Tukini pedagang nasi berkat Pasar Legi asal Wonogiri yang menyempatkan datang ke Masjid Agung, mengaku akan mempergunakan hasil rebutannya untuk menjadi campuran bahan jualan nasi berkat. Hal itu lantaran dirinya mempercayai bisa membawa keberkahan.
"Saya biasa jualan nasi berkat di Pasar Legi dan asli Wonogiri. Nanti hasilnya buat campuran bahan jualan agar berkah dan bisa sukses. Saya percaya bahan-bahan hasil bumi yang ada gunungan bisa membawa berkah. Rasanya senang banget," ucap Tukini.
Sementara itu, Penghulu Tafsir Anom Keraton Surakarta, Muhtarom menjelaskan bahwa tradisi Grebeg Besar ini selalu rutin diadakan setiap tahun. Menurutnya selain Grebeg Besar, Keraton Surakarta Hadiningrat juga memiliki dua acara Grebeg lainnya.
"Ini merupakan ritual adat Keraton yang sampai saat ini masih dilestarikan sejak Kerajaan Demak, kemudian Mataram sampai saat ini. Dalam satu tahun ada tiga Grebeg, pertama Grebeg Sekaten memperingati Maulid, Grebeg Puasa atau Syawal dan Grebeg Besar," ujar Muhtarom.
Grebeg Besar dikatakan Muhtarom juga memiliki makna sebagai wujud syukur dari Raja Keraton Surakarta, karena sudah menyelesaikan puasa Arafah ataupun Iduladha.
"Ini dalam rangka wujud syukurnya Raja dari Keraton Surakarta bahwa telah menyelesaikan puasa Arafah dan Iduladha. Sebagai wujud syukurnya dari Keraton Surakarta serta masyarakat," ujarnya menambahkan. (JK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....