Komisi VII DPR RI Tinjau Potensi Hilirisasi Industri di Rumah Atsiri

  • 21 Mei 2026 17:21 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Komisi VII DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke destinasi wisata edukatif Rumah Atsiri Indonesia di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (20/5/2026). Rombongan yang dipimpin Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, ini meninjau langsung integrasi sektor industri, pariwisata, dan pemberdayaan UMKM yang diterapkan di kawasan tersebut.

Tiba di lokasi sekitar pukul 13.00 WIB, jajaran Komisi VII DPR RI langsung meninjau berbagai wahana edukatif yang menampilkan proses pengolahan serta sejarah minyak atsiri. Saraswati menekankan kunjungan ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan untuk memastikan transformasi ekonomi nasional berjalan sesuai amanat undang-undang.

“Komisi VII DPR RI memandang bahwa Rumah Atsiri Indonesia merupakan salah satu contoh konkret bagaimana integrasi antara sektor industri, pariwisata, edukasi, dan UMKM dapat diwujudkan secara inovatif. Transformasi kawasan eks pabrik menjadi destinasi wisata edukatif berbasis industri Atsiri menunjukkan bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru yang memiliki daya saing tinggi,” ujar Rahayu Saraswati dalam kunker spesifik Komisi VII DPR RI.

Politikus Partai Gerindra tersebut menambahkan keberhasilan pengembangan Rumah Atsiri sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Visi tersebut menitikberatkan pada kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal, penguatan hilirisasi industri, serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kami datang ke sini untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif terkait potensi lokal yang luar biasa. Saya sangat salut dari awal melihat Rumah Atsiri berdiri, visinya sangat jelas dan evolusinya sangat konsisten berkembang hingga taraf internasional,” ucapnya.

Di sisi lain, perwakilan Kementerian Perindustrian, Andi Rizal, memaparkan tantangan besar dalam industri atsiri nasional. Meskipun nilai ekspor komoditas atsiri hampir mencapai 100 juta dolar AS, namun sebagian besar masih didominasi oleh produk intermediat atau bahan baku mentah, bukan produk jadi yang memiliki nilai tambah tinggi.

“Angka ini menunjukkan bahwa hampir 100 juta USD tersebut ternyata didominasi produk antaranya yang lebih banyak diekspor. Belum sampai ke hilirisasi sekali, masih raw material yang diekspor,” ujar Andi.

Andi menambahkan, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah menyiapkan program restrukturisasi mesin bagi pelaku usaha untuk mendorong hilirisasi. Pelaku usaha yang membeli mesin baru untuk pengolahan komoditas atsiri berhak mengajukan subsidi potongan harga hingga 40 persen jika menggunakan mesin produksi lokal.

“Jika mesin barunya diproduksi oleh produsen lokal, maka pelaku usaha bisa mendapatkan maksimal 40 persen dari harga mesin. Program ini terus kami lakukan sejak tahun 2021 untuk mendukung penguatan industri berbasis sumber daya domestik,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....