Peringatan Harkitnas di Solo, Filosofi Pergerakan Sejarah dan Melu Handarbeni

  • 20 Mei 2026 15:29 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang digelar di kawasan bersejarah Tugu Lilin Penumping, Kota Surakarta, menjadi ajang penting untuk menyalakan kembali semangat perjuangan lokal di hati masyarakat. Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang hadir langsung di tengah ratusan peserta upacara mengingatkan kembali rekam jejak historis Kota Solo sebagai episentrum lahirnya berbagai pergerakan nasional yang berdampak besar bagi bangsa Indonesia.

Astrid Widayani memaparkan bahwa Tugu Lilin bukan sekadar ornamen kota, melainkan simbol nyala api perjuangan yang tidak pernah padam. Sejarah mencatat, kota ini menjadi saksi awal berdirinya partai politik pertama, Sarekat Dagang Islam, organisasi profesi seperti PWI, hingga organisasi olahraga nasional seperti PSSI dan pelaksanaan PON pertama. Berbagai pergerakan besar tersebut membuktikan bahwa masyarakat Solo memiliki tekad bulat atas dasar kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam momentum Harkitnas kali ini, Astrid secara khusus menggaungkan kembali ajaran luhur Sambernyowo, seperti prinsip Melu Handarbeni atau ikut memiliki, agar diresapi oleh seluruh elemen masyarakat Solo, mulai dari siswa sekolah, ASN, hingga aparat TNI-Polri. Filosofi budaya ini dipandang relevan untuk membangun kolaborasi aktif dalam menghadapi segala tantangan daerah.

"Ini salah satu filosofi di budaya kami yang ingin mengajak semua pihak elemen masyarakat untuk terus merangkul bersama-sama ikut memiliki Kota Solo, ikut bersatu padu berkontribusi untuk Solo dan untuk bangsa Indonesia dan tentunya selalu waspada dengan kondisi yang ada. Jadi apapun krisisnya, tantangannya harus tetap diatasi bersama-sama," tutur Astrid Widayani, Rabu, 20 Mei 2026.

Semangat persatuan dan kontribusi kolektif yang disuarakan oleh pemerintah kota tersebut juga diamini oleh unsur yudikatif daerah. Ketua Pengadilan Negeri Surakarta, Achmad Satibi, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara menyatakan bahwa nilai-nilai sejarah pergerakan di Solo harus diimplementasikan lewat aksi nyata pengabdian publik saat ini.

Achmad Satibi menekankan bahwa jika generasi terdahulu berjuang merintis pergerakan bangsa di Solo, maka tugas generasi masa kini adalah membangkitkan komitmen keadilan. Kedisiplinan aparatur negara dalam menegakkan hukum di lapangan menjadi bentuk kontribusi nyata dalam menjaga warisan kedaulatan yang telah diinisiasi oleh para tokoh pergerakan terdahulu.

"Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di tempat bersejarah ini harus menjadi momentum bagi kita semua, khususnya jajaran aparatur sipil dan penegak hukum, untuk meningkatkan integritas, profesionalisme, dan pelayanan kepada masyarakat. Kebangkitan bangsa dimulai dari kedisiplinan dan kepatuhan kita terhadap hukum yang berlaku demi mewujudkan Indonesia yang maju dan berkeadilan," ucap Achmad Satibi.

Setelah seluruh khidmatnya prosesi upacara penegasan semangat juang dan filosofi lokal di Tugu Lilin ini selesai dilaksanakan, jajaran Forkopimda Kota Surakarta bersama para tokoh daerah kemudian melanjutkan agenda dengan bertolak menuju Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti untuk menggelar ziarah serta tabur bunga bersama. (Ryan Assyidiqi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....