Mahkota Cinta di Balik Cahaya Al-Qur’an: Kisah Haru 67 Pejuang Hafalan SMP Muh PK Solo
- 18 Mei 2026 14:56 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Ruang ballroom The Alana Hotel Solo yang megah seketika berubah menjadi samudera air mata, Sabtu 16 Mei 2026. Bukan karena kesedihan, melainkan luapan haru yang membuncah saat 67 siswa SMP Muhammadiyah Program Khusus ( Muh PK) Kottabarat Solo melangkah perlahan menuju orang tua mereka.
Di tengah remang cahaya dan suasana syahdu, para remaja ini membawa sebuah simbol kehormatan mahkota. Dengan tangan bergetar dan pelukan hangat, mereka menyematkan mahkota tersebut di kepala ayah dan ibu, dibarengi dengan secarik "surat cinta" yang ditulis dari lubuk hati terdalam.
Wisuda Tahfiz bertajuk “Membentuk Generasi Rabbani dengan Al-Qur’an” ini bukan sekadar seremoni akademik. Ini adalah perayaan atas keteguhan hati. Bayangkan saja, di tengah gempuran distraksi digital, para siswa ini justru memilih tenggelam dalam ayat-ayat suci.
Capaiannya pun tak main-main. Sebanyak 67 wisudawan menunjukkan grafik hafalan yang luar biasa, mulai dari Juz 30 hingga ada yang menembus angka 12 Juz. Prestasi tertinggi tahun ini diraih oleh Juhaina Yafi'ah Fadhila sebagai wisudawan terbaik pertama, disusul oleh Afham Rais Faizullah Swandono di posisi kedua.

Hadir memberikan motivasi, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. H. Abdul Kholiq Hasan, MA., M.Ed., menekankan bahwa di balik anak yang hebat, ada orang tua yang "berdarah-darah" dalam mendampingi.
“Jika ingin anak mampu menghafal Al-Qur’an, orang tua harus memiliki komitmen untuk membersamai. Ada lima kunci: murojaah setiap hari, pendampingan keluarga, tasmi’, jadwal hafalan yang jelas, dan doa yang tak putus kepada Allah SWT,” pesan Prof. Abdul Kholiq.
Ia memuji langkah SMP Muhammadiyah PK yang menyeimbangkan antara kecerdasan akademis dengan spiritualitas. Menurutnya, model pendidikan seperti inilah yang akan melahirkan pemimpin masa depan yang beretika.
Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah PK Kottabarat, Muhdiyatmoko, M.Pd., tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, melihat 67 siswanya berproses hingga titik ini adalah sebuah anugerah.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada orang tua, Majelis Pendidikan PDM Surakarta, dan Kemenag atas dukungannya. Harapan kami besar, para wisudawan tidak hanya menjaga hafalan di lisan, tapi juga memahami, mengamalkan, dan mengajarkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Momen yang paling membekas dalam ingatan para tamu undangan adalah sesi kejutan di penghujung acara. Sebelum penyematan mahkota, sebuah video diputar, menampilkan rekaman perjuangan para siswa—mulai dari rasa lelah, kantuk saat setoran hafalan, hingga senyum syukur saat satu surat berhasil dikuasai.
Ketika lampu dipadamkan dan ruangan menjadi gelap gulita, di sanalah dialog batin antara anak dan orang tua terjadi. Isak tangis pecah, menjadi saksi betapa Al-Qur’an mampu melembutkan hati dan mempererat ikatan kekeluargaan.
Melalui Wisuda Tahfiz ini, SMP Muhammadiyah PK Kottabarat kembali menegaskan bahwa prestasi tidak melulu soal angka di atas kertas raport, melainkan tentang seberapa dalam Al-Qur’an terhujam di dalam dada.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....