Dr. Budiyono Soroti Tantangan Likuiditas di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi

  • 01 Mei 2026 14:09 WIB
  •  Surakarta

RRI. CO. ID, Surakarta - Pertumbuhan ekonomi secara nasional yang stabil di angka 5%, membuat tingkat akar rumput menunjukkan tantangan yang berbeda.

Pengamat ekonomi sekaligus akademisi dari ITB AAS Indonesia, Dr. Budiyono, SE, M.Si, memberikan catatan kritis terhadap kondisi sektor properti yang kini tengah berjuang menghadapi tekanan likuiditas dan stagnasi pasar.

Ketua DPD Apernas Solo Raya ini menggambarkan bahwa para pengembang saat ini sedang berada dalam fase yang sangat menantang.

"Ada diskoneksi antara angka pertumbuhan makro dengan realita di lapangan. Bagi pengembang, penurunan aktivitas pasar yang mencapai 25-40% menunjukkan bahwa energi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya terserap oleh sektor riil," ujar Dr. Budiyono, Jumat 1 Mei 2026.

Dalam analisisnya, dia menyoroti beberapa faktor fundamental yang menyebabkan sektor produktif kian terhimpit.

Dr. Budiyono juga mengamati adanya kecenderungan lembaga pembiayaan yang lebih selektif dan cenderung memprioritaskan penempatan dana pada instrumen negara (SUN) demi mitigasi risiko..

"Sikap perbankan yang mencari titik aman ini secara tidak langsung mengurangi distribusi modal ke sektor konstruksi dan KPR. Dampaknya, sektor riil mengalami keterbatasan ruang finansial di tengah melimpahnya likuiditas perbankan secara nasional," jelasnya.

Kecenderungan Masyarakat Memilih Aset PasifDalam situasi ketidakpastian, pemilik modal cenderung bersikap defensif dengan mengalihkan investasi ke instrumen pasif seperti emas dan deposito.

"Secara makro, fenomena ini menyebabkan dana menjadi 'aset diam' yang tidak produktif. Dana yang seharusnya berputar di sektor pembangunan fisik dan menyerap tenaga kerja, justru mengendap di instrumen berisiko rendah," ungkap Dr. Budiyono.

Beban Operasional di Tengah Stagnasi PasarMeskipun daya beli masyarakat untuk sektor hunian cenderung melambat, pengembang tetap dihadapkan pada komitmen finansial yang tidak bisa ditunda, mulai dari bunga bank hingga beban pajak.

Kondisi ini menciptakan tekanan arus kas yang sangat berat bagi pelaku usaha.Keterkaitan Sistemik Sektor PropertiBeliau mengingatkan bahwa sektor properti adalah lokomotif bagi 174 sektor industri pendukung lainnya.

Melemahnya daya serap di sektor ini akan berdampak sistemik pada rantai pasok industri nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Dr. Budiyono berharap otoritas keuangan dan pemerintah dapat memberikan stimulus yang lebih tepat sasaran.

"Kita memerlukan kebijakan yang mampu menarik kembali minat investasi ke sektor produktif. Relaksasi dan insentif nyata sangat dibutuhkan agar arus modal kembali mengalir ke pasar riil sebelum momentum pertumbuhan ekonomi kita benar-benar melambat," pungkasnya. (Edwi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....