Setara Berkarya, Goresan Canting Kartini Perkuat Pemberdayaan Perempuan

  • 01 Mei 2026 05:37 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kegiatan Setara Berkarya: Goresan Canting Kartini digelar di Wesja, Kampung Batik Kauman, Kamis 30 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Kartini sekaligus upaya pemberdayaan perempuan melalui seni membatik.

Ketua TP PKK Kota Surakarta, Venessa Winastesia, mengatakan semangat Kartini harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar, berkarya, dan memberikan dampak bagi sesama.

“Semangat Kartini tidak boleh hanya menjadi sejarah, tetapi harus kita lanjutkan. Perempuan punya hak yang sama untuk belajar, berpikir, dan berkarya,” katanya.

Ia menambahkan kegiatan ini tidak sekadar pertemuan, tetapi menjadi ruang untuk saling menguatkan antar perempuan. Melalui sesi inspirational talk, peserta diharapkan dapat belajar dari pengalaman dan perjuangan perempuan lainnya.

“Ini menjadi ruang inklusi, di mana perempuan bisa saling menguatkan. Keterbatasan bukan halangan, tetapi bagian dari perjalanan untuk berkembang,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, kegiatan membatik melalui Goresan Canting Kartini juga menjadi media ekspresi diri. Venessa menyebut setiap goresan batik tidak hanya menghasilkan motif, tetapi juga mengandung harapan dan makna.

“Dalam setiap helai batik ada doa, harapan, dan filosofi. Ini menjadi cara kita mengekspresikan diri melalui budaya,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta, Kristiana Hariyanti, menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pengarusutamaan gender. Hal ini sejalan dengan berbagai regulasi yang mendorong kesetaraan perempuan di daerah.

“Kegiatan ini bertujuan menciptakan kolaborasi setara antara perempuan difabel dan non-difabel, meningkatkan keterampilan, serta mendorong kemandirian ekonomi,” jelasnya.

Ia menambahkan, melalui proses membatik, peserta tidak hanya menghasilkan karya tetapi juga membangun empati dan saling menghargai keberagaman. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri perempuan.

Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta, terdiri dari perempuan disabilitas, atlet disabilitas, serta perwakilan organisasi perempuan di Kota Surakarta.

Melalui kegiatan ini, diharapkan perempuan semakin berdaya dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki. Selain itu, pelestarian budaya batik juga dapat terus terjaga melalui keterlibatan masyarakat. (Reza/MI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....