Puluhan Siswa Solo Adu Kreativitas Mewarnai Wayang di Jebres
- 18 Apr 2026 19:06 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Coretan warna-warni di atas pola wayang memenuhi halaman SDN Tugu Jebres, Sabtu, 18 April 2026.
Sebanyak 80 siswa tingkat Sekolah Dasar se-Surakarta mengikuti Lomba Mewarnai Wayang dalam memperebutkan Piala Apresiasi Astrid Widayani.
Ajang kreativitas ini menjadi bagian dari Festival Dalang Cilik dan Tari Kampung Seni Kentingan serta gelar UMKM Asri Surakarta yang berlangsung selama dua hari guna mengenalkan warisan leluhur kepada generasi muda sejak dini.
Pendiri Sanggar Wayang Gogon, Margono, menjelaskan lomba mewarnai ini dibagi menjadi dua kategori, yakni kelas satu hingga tiga serta kelas empat hingga enam SD.
Selain lomba mewarnai, festival ini juga memecahkan rekor dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) melalui pentas kolosal yang melibatkan 200 penari dan dalang cilik.
Kolaborasi ini melibatkan siswa dari berbagai sanggar di Solo Raya serta pelajar SDN Tugu sebagai tuan rumah penyelenggaraan.
“Peserta lomba mewarnai yang mendaftar ada 80 peserta tingkat SD. Selain itu, tadi malam ada pentas kolosal dalang cilik dan tari yang mendapatkan rekor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia sebagai peserta terbanyak yakni 200 orang,” ujar Margono kepada rri.co.id, Sabtu, 18 April 2026.
Festival ini merupakan agenda tahunan untuk memperingati peresmian Kampung Seni dan UMKM di RW 10 dan 11 Kentingan yang telah dikukuhkan sejak tahun 2022 lalu. Selain panggung seni, festival ini turut memamerkan berbagai potensi lokal mulai dari produk kerajinan tangan, urban farming, hingga seni kaligrafi.
Kehadiran Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, dalam pembukaan acara semakin menambah semangat warga untuk terus memberdayakan potensi wilayah secara swadaya.
Ketua Panitia, Topan Setiawan, mengungkapkan festival ini mengusung misi besar sebagai bentuk perlawanan terhadap arus budaya asing yang kian masif. Melalui penguatan seni pedalangan dan tari bagi anak muda, identitas budaya lokal diharapkan tidak akan terkikis oleh tren mancanegara.
Selain aspek seni, pemberdayaan UMKM dalam festival ini juga bertujuan untuk membongkar hambatan mental warga agar lebih berani memulai dan mengembangkan usaha secara mandiri.
“Tujuannya adalah apresiasi terhadap seni. Ketika anak muda punya hobi dalang, itu adalah bentuk counter culture agar kita tidak terkikis budaya populer mancanegara. Untuk UMKM, kita mencoba membongkar mental block warga agar berani berdaya,” kata Topan.
Pelaksanaan festival yang berlangsung sejak tanggal 17 hingga 18 April 2026 ini membuktikan semangat gotong royong warga mampu melahirkan acara yang monumental.
Dengan dukungan berbagai pihak, Kampung Seni Kentingan optimis dapat terus menjadi pusat pelestarian budaya dan penggerak ekonomi kreatif di Surakarta. Diharapkan, kegiatan ini menjadi pondasi bagi para pelaku seni dan UMKM lokal untuk naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....