Makna Sadranan, Doa Leluhur hingga Perekat-Sosial Warga Mliwis
- 04 Feb 2026 17:52 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Boyolali - Tradisi Sadranan tidak hanya dimaknai sebagai ritual doa bagi leluhur. Tetapi juga menjadi sarana silaturahmi dan penguatan nilai sosial masyarakat Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali.
Tokoh agama Desa Mliwis, KH Masykuri, mengatakan inti Sadranan adalah mendoakan arwah orang tua dan leluhur. Tradisi ini menjadi bentuk bakti anak kepada orang tua yang telah meninggal dunia.
“Ahli kubur hanya meminta doanya anak yang waladun solihun yada'ulah,” katanya saat ditemui rri.co.id di rumahnya, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia menjelaskan, melalui Sadranan masyarakat diingatkan akan asal-usul dan sejarah keluarga. Ziarah makam menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki orang tua dan leluhur yang patut dihormati.
Selain aspek spiritual, Sadranan juga mengandung pesan pengingat kematian. Ritual ziarah mengajarkan bahwa setiap manusia kelak akan mengalami hal yang sama, sehingga perlu mempersiapkan diri dengan amal kebaikan.
Makna lain dari Sadranan adalah mempererat silaturahmi. Warga yang merantau akan pulang kampung, bertemu sanak saudara, tetangga, dan kerabat yang jarang berjumpa.
“Setelah selesai berziarah, mendoakan para arwah, para leluhurnya. Kemudian singgah kepada saudaranya yang di desa,” katanya.
Sadranan juga berdampak pada perputaran ekonomi desa. Tradisi membawa tenong berisi makanan mendorong aktivitas jual beli bahan pangan dan jasa, sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.
KH Masykuri berharap tradisi Sadranan terus dilestarikan. Menurutnya, Sadranan bukan hanya ritual budaya, tetapi juga ibadah yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat. (Reza/Wida)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....