Krisis Kejujuran: Siswa Menyontek di Banyak Sekolah
- 30 Apr 2025 20:42 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Fakta mengejutkan terungkap dari hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) 2024 yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dimana sebanyak 78 persen sekolah di Indonesia ditemukan memiliki kasus menyontek saat ujian.
Fenomena ini tidak hanya mengkhawatirkan secara akademik, tapi juga dinilai mencerminkan krisis kejujuran dan lemahnya budaya integritas di lingkungan pendidikan.
Pengamat pendidikan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Joko Nurkamto menilai, maraknya perilaku mencontek adalah sinyal kegagalan dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam aspek kejujuran.
“Ketika mereka mencontek, itu artinya mereka sudah tidak jujur. Ini perbuatan yang tidak baik dan menunjukkan ada yang salah, baik dari kesiapan siswa maupun budaya sekolah secara keseluruhan,” ujarnya saat dimintai tanggapan rri.co.id, Rabu (30/4/2025).
Menurut Joko, ada lima akar penyebab utama dari perilaku mencontek yakni lemahnya nilai kejujuran, ketidaksiapan menghadapi ujian, buruknya metode belajar, obsesi terhadap nilai tinggi secara instan, dan lingkungan sekolah yang tidak menumbuhkan budaya integritas.
Pihaknya juga mengingatkan pentingnya peran guru dalam pengawasan dan pendidikan karakter, bukan hanya saat ujian berlangsung tetapi sepanjang proses pembelajaran.
Perlunya sekolah dalam hal ini ya bisa melalui guru, bisa melalui wali kelas, bisa melalui kepala sekolah atau wakil kepala sekolah untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak. Anak harus dilatih untuk percaya diri agar mereka itu tidak nyontek. Tetapi yang terpenting adalah sekolah harus membudayakan kejujuran,” katanya.
Senada, dosen Psikologi UNS, Rafika Nur Kusumawati menambahkan, perilaku mencontek terjadi karena kombinasi tiga faktor: kemampuan (ability), motivasi (motivation), dan kesempatan (opportunity).
“Bisa jadi siswa merasa tidak mampu secara akademik, didorong ingin meraih nilai tinggi, dan sistem sekolah memberi celah lewat pengawasan yang longgar,” ucap Rafika.
Pihaknya menekankan perlunya pendekatan holistik untuk mengatasi hal ini, mulai dari meningkatkan kualitas pengajaran, memperkuat motivasi internal siswa, hingga membentuk sistem ujian yang lebih ketat dan adil. Rafika juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter sejak dini serta kampanye anti-mencontek di kalangan siswa.
“Jadi memang perlunya adanya pendidikan karakter dan etika akademik yang baik, pemahaman terhadap siswa. Sehingga integrasi nilai kejujuran dan tanggung jawab akademik ini akan dipahami oleh siswa, mana perilaku yang benar dan salah. Lalu juga bisa juga dengan kampanye anti mencontek seperti membuat sosialisasi dan lain sebagainya,” kata Rafika.
Kedua akademisi tersebut sepakat solusi atas budaya mencontek tidak cukup hanya dengan hukuman, tetapi harus disertai pembenahan sistem dan sinergi antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....