Ramadan Momentum Hijrah untuk Perbaikan Diri

  • 14 Mar 2026 11:25 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Hijrah secara etimologi berasal dari bahasa arab yaitu hajara, yahjuru, hijratan yang artinya meninggalkan, menjauh, atau berpindah. Definisi hijrah berarti meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain atau bisa berarti pula proses meninggalkan sesuatu yang lama menuju sesuatu yang baru.

Menurut Ustazah Robiah Millatuzzulfa Adawiyah penyuluh agama Islam Kemenetrian Agama Kota Surakarta saat dialog Kajian Islami di Pro 4 RRI Surakarta pada Selasa, 3 Maret 2026 mengatakan, dalam konteks keislaman, hijrah bukan hanya berpindah tempat secara fisik tetapi meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Selain itu juga meninggalkan maksiat menuju ketaatan.

“Dari yang awalnya lalai menuju dzikir. Dari kebodohan menuju ilmu. Serta meninggalkan hal-hal yang tidak diridhai Allah menuju hal-hal yang dicintai oleh-Nya,” ucap Ustazah Mila, sapaan akrabnya.

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum hijrah perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT. Dalam konteks ini, hijrah berarti meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan amalan yang lebih bermanfaat.

Ramadan memberikan suasana yang kondusif bagi perubahan ini, karena pahala di bulan ini tidak sekadar bertambah tetapi berlipat dan tidak terhitung. Maka sayang sekali jika bulan yang penuh pelipatgandaan pahala ini berlalu tanpa kita isi dengan ibadah untuk memperbaiki kualitas iman dan diri kita. Lalu apa yang harus dilakukan?

Pertama, meningkatkan kualitas shalat dan memperbanyak ibadah sunah. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari & Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan ketakwaan melalui shalat fardhu yang lebih khusyuk, serta memperbanyak salat sunah seperti tarawih, tahajud, dan witir.

Kedua, interaksi dengan Al-Qur’an juga menjadi bagian penting dalam hijrah spiritual. Allah SWT berfirman: Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia” (QS. Al-Baqarah: 185). Dengan memperbanyak tilawah dan tadabbur Al-Qur’an, seorang Muslim dapat semakin memahami petunjuk Allah SWT dan memperbaiki diri sesuai dengan ajaran-Nya.

Ketiga, meningkatkan kepedulian sosial. Rasulullah SAW bersabda: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad). Ramadan mengajarkan umat Islam untuk lebih peduli terhadap sesama melalui zakat, sedekah, dengan berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan.

“Seseorang tidak hanya membersihkan hartanya tetapi juga membersihkan hati kita dari sifat egois dan kikir, serta mampu menumbuhkan sifat empati dan kasih sayang dalam diri kita. Inilah bentuk hijrah sosial yang dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan masyarakat, menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan penuh keberkahan,” katanya.

Ia berpesan untuk selalu menjadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa, lebih sabar, lebih peduli, dan lebih baik dalam menjalani kehidupan. Dengan begitu, Ramadan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi benar-benar menjadi momentum perubahan diri yang hakiki. (Nuri)

Rekomendasi Berita