Makna dan Tradisi Menyambut Ramadan dalam Berbagai Budaya

  • 28 Jan 2026 08:58 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Berbagai tradisi menyambut Ramadan masih hidup dan dijalankan masyarakat di Indonesia maupun negara lain. Tradisi tersebut menjadi cara umat Muslim mengekspresikan kegembiraan sekaligus kesiapan spiritual menyambut bulan suci Ramadan.

Dosen Program Studi Sastra Arab FIB, Dr. Reza Sukma Nugraha, M.Hum dalam dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Jum'at 23 Januari 2026 menjelaskan Ramadan dipandang sebagai bulan yang sangat istimewa dalam ajaran Islam. “Di dalam teks-teks agama disebutkan Ramadan sebagai bulan penuh kemuliaan, sehingga apa pun yang dilakukan di bulan ini memiliki nilai lebih,” ujarnya.

Menurut Reza, ajaran agama ini diterjemahkan masyarakat ke dalam berbagai bentuk tradisi sesuai budaya masing-masing daerah. Di Jawa dikenal tradisi nyadran, sementara di Jawa Barat ada munggahan, yang sama-sama dilakukan pada bulan Syaban atau ruwah menjelang Ramadan.

“Praktiknya mungkin berbeda nama, tetapi esensinya sama, yaitu berkumpul, berdoa, dan makan bersama,” kata Reza. Ia mencontohkan tradisi munggahan berasal dari kata “unggah” yang bermakna naik, sebagai simbol memasuki bulan yang dianggap paling mulia.

Selain itu, terdapat pula tradisi bersuci seperti padusan di Jawa dan mandi balimau di Sumatra Barat. Mandi Balimau berasal dari tradisi masyarakat Minangkabau, yaitu ritual menyucikan diri secara lahir dan batin dengan mandi menggunakan campuran air dan limau (jeruk nipis) atau wewangian (kasai) untuk menyambut bulan suci Ramadan. 

Reza menjelaskan, praktik-praktk itu memiliki makna simbolik sebagai bentuk penyucian diri dalam menyambut bulan Ramadan yang dianggap sakral, yang tidak hanya bermakna personal, tetapi juga sosial. “Ramadan menjadi momen untuk mengikat kembali hubungan sosial, menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk komunal, bukan hidup sendiri-sendiri,” ujarnya.

Dalam konteks modern dan digital, Reza mengakui terjadi pergeseran cara generasi muda mengekspresikan tradisi menyambut Ramadan. Namun, ia menekankan pergeseran bentuk tidak menjadi masalah selama nilai dasarnya tetap terjaga.

“Boleh caranya berbeda, tetapi esensinya harus tetap sama, yaitu kegembiraan, penyucian diri, dan kebersamaan,” kata Reza. Menurutnya, tradisi menyambut Ramadan perlu terus dilestarikan sebagai pengingat refleksi diri dan penguatan nilai sosial di tengah kehidupan yang semakin individualistis. (Hilma)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....