Menjaga Napas Tradisi dalam Harum Gurih Apem Jatinom, Dongkrak UMKM Lokal

  • 05 Agt 2026 08:08 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Aroma manis dan gurih santan merebak hangat dari dapur sederhana milik Aji, warga Jatinom, Klaten. Di tangannya, adonan tepung beras, santan, dan gula tak sekadar diolah menjadi kue basah, melainkan dirawat sebagai pengikat memori dan pelestari identitas daerah.

Bagi Aji, apem bukan sekadar jajanan pasar. Kudapan sederhana ini telah berkelindan erat dengan denyut tradisi Saparan, menjadi ikon budaya yang tak lekang oleh zaman. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan kepulan asap cetakan apem di rumahnya—biasa hadir mengisi momen hajatan, tahlilan, hingga hajatan tradisi lokal.

Namun, benih gagasan lain muncul di benaknya beberapa tahun lalu. “Di Jatinom itu pasti ada apem. Kenapa kita tidak berpikir untuk bisa dikonsumsi setiap hari?” ujar Aji Selasa 4 Agustus 2026.

Pemikiran sederhana itu menjadi penanda lahirnya usaha apem harian milik Aji pada 2017. Ia ingin membawa jajanan khas ini melampaui batasan ritual tahunan.

Secara historis, apem memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Saparan di Jatinom. Setiap bulan Safar, berton-ton apem dikumpulkan dan didoakan bersama sebelum dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.

“Apem itu semacam gunungan ikonnya Jatinom. Dulu ada sejarah Ki Ageng Gribig bawa oleh-oleh dari Mekkah. Mungkin karena di sana tidak ada oleh-oleh, lalu istrinya bikin kue yang didoakan oleh Ki Ageng Gribig dan dibagikan oleh para santri di sekelilingnya,” ucap Aji mengisahkan ikatan sejarah daerahnya.

Seiring berjalannya waktu, Aji terus menyelaraskan tradisi dengan selera zaman. Resep klasik ia perbaiki agar menghasilkan tekstur apem yang lebih lembut. Varian rasa kekinian pun dihadirkan, mulai dari cokelat, keju, nangka, pandan, hingga tiramisu—meski rasa original tepung beras dan santan tetap mendominasi hati para pembeli.

Langkah inovasi ini rupanya membawa dampak ekonomi yang nyata. Semangat Aji merambah ke warga sekitar, hingga kini tercatat lebih dari 30 UMKM serupa berjejer di sepanjang jalan Jatinom, menjadikan kue tradisi ini sebagai oleh-oleh khas yang bisa dinikmati setiap hari.

Kini, tantangan baru membentang di hadapan Aji dan para pelaku usaha setempat. Mereka harus terus mengemas apem secara lebih modern dan memperpanjang daya tahan produk agar apem Jatinom mampu melangkah lebih jauh, tanpa pernah kehilangan jiwanya sebagai warisan tradisi. (Lidia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....